Minggu, 18 September 2011

Semester 7 dan Saya Semakin Aneh

Peringatan!! dianjurkan untuk tidak membaca kalau tidak suka tulisan yang nggak jelas intinya kemana..

Semester baru!

Akhirnya besok senin perkuliahan semester 7 mulai lagi...err..sebenernya udah dimulai 2 bulan yang lalu, karena magang yang penilaiannya masuk di semester 7 udah dimulai duluan.

Saya menghadapi semester ini dengan berbagai hal yang berbeda dari semester-semester sebelumnya. Saya mulai kontrak rumah bareng temen-temen, mengambil kelas malem, dan mulai merasakan bahwa dalam diri saya terjadi perubahan orientasi dan pandangan tentang apa yang sebenarnya ingin saya raih.

Mengenai yang saya sebut terakhir, berbagai hal seakan-akan secara kebetulan datang dengan membawa pelajaran yang sama bagi saya. Mulai dari bagaimana hidup bersama dengan teman-teman, yang tentunya terasa berbeda dengan ketika kita hidup bersama keluarga; pelajaran-pelajaran dari kegiatan magang, tentang bagaimana berhubungan dengan partner kerja, supervisor, dan tentunya berbagai macam orang yang memiliki latar belakang dan memiliki kepentingan yang berbeda; pelajaran-pelajaran dari buku-buku yang saya baca dengan inti yang hampir sama, yang seolah-olah mereka memang ditakdirkan untuk saya baca; film, walau akhir-akhir ini saya jarang nonton; twitter, tentang bagaimana celetukan-celetukan teman-teman saya tentang bagaimana mereka menyikapi apa yang ada di sekitar mereka; musik, yang walaupun dari lirik tidak ada hubungannya dengan perubahan ini, namun berbagai musik yang saya senang dengarkan akhir-akhir ini seakan-akan memiliki irama yang khas yang selalu membawa saya kepemikiran-pemikiran tertentu ketika mendengarkannya; dan juga yang saya lihat dari pengalaman-pengalaman orang lain dan bagaimana mereka menyikapinya. Tentang apa saja kah perubahan2 pandangan itu? Saya tidak bisa menjelaskannya secara detail sekarang. Namun intinya adalah saya harus bisa melepaskan diri dari menjadi beban orang lain menuju suatu keadaan dimana saya menjadi lebih berguna bagi orang lain.

Mungkin satu contoh, hal ini juga turut mempengaruhi keputusan saya soal kontrak-mengontrak *ngaco bikin istilah*, selain karena pertimbangan saya akan bisa lebih "produktif", sebenernya adalah salah satu bentuk keinginan saya untuk bisa lebih mandiri, bukan hanya mandiri dalam artian hidup tidak bersama dengan keluarga, namun juga mandiri dalam mengatur keuangan. Mungkin timbul pertanyaan: "Kenapa begitu? Kan sama aja, cuman beda tempat doang tapi tetep minta sokongan dari orang tua." Untuk hal ini saya memutuskan untuk lebih prihatin; saya berusaha untuk tidak akan menjadi beban ayah saya lagi, saya harus bisa memenuhi kebutuhan pribadi saya dengan usaha sendiri. Dengan cara seperti apa? Saya juga masih cari solusinya...(benar-benar gambling, namun semoga cepat terselesaikan...aamiin..)

Soal kelas malam. Saya berharap bahwa keputusan untuk mengambil opsi ini akan mempermudah saya untuk dapat mencapai apa yang menjadi tujuan-tujuan saya tersebut, dan menurut saya, dibanding saya mengambil kelas pagi, opsi ini memang akan lebih mampu memberi saya waktu untuk melakukan "hal" itu.

Untuk bisa melakukan hal ini, ada beberapa hal yang perlu saya pegang, salah satunya adalah saya harus bisa sedikit demi sedikit mengurangi "ke-aku-an" dari diri saya. Saya tidak boleh iri dengan berbagai nikmatnya "ke-aku-an" yang dirasakan oleh orang lain sehingga saya putus asa dan hilang komitmen, berbalik lagi menjadi orang yang hanya mementingkan kepuasan pribadi.

Dan di semester 7 ini, saya merasakan bahwa akan terjadi menjadi momentum itu. Jadi, mulai sekarang saya harus mulai membiasakan diri. Saya sudah mencoba di bulan-bulan terakhir ini, dan memang godaannya sangat luar biasa. Perasaan sedih, marah, kesal, iri dan yang paling susah untuk dihindari: pamrih! satu-persatu muncul, ketika saya merasa capek, merasa apa yang saya lakukan sia-sia, merasa tidak adil ketika saya mengharapkan timbal balik tertentu namun saya malah tidak mendapat apa-apa bahkan malah merasa dimanfaatkan......yang semua ini menunjukkan bahwa saya pada dasarnya masih susah untuk melepaskan "ke-aku-an" atau mementingkan diri sendiri. Saya yakin itu semua adalah proses yang harus dihadapi, dan saya hanya perlu untuk menjadi terbiasa dengan hal itu.

Terakhir, semoga saya selalu diberi kebijaksanaan dalam memilih jalan mana yang akan saya tempuh dan diberi petunjuk agar tidak tersesat. Semoga saya selalu disadarkan untuk selalu bisa berkomitmen dan tidak mudah putus asa, karena saya yakin kali ini saya akan berbuat sesuatu yang baik (malu dong udah 21 tapi nggak sadar-sadar!).

 *sumpah saya nggak ngerti abis curcol apaan (takut baca ulang dari atas)*

Sabtu, 20 Agustus 2011

21

Tidak terasa beberapa hari yang lalu saya telah berhasil mengulang tanggal dan bulan yang sama dalam hidup saya.

Bagi sebagian orang, mungkin yang namanya ulang tahun adalah saat-saat spesial yang paling ditunggu. Sampai saking bersemangatnya mereka hingga sering H-1 mereka tidak bisa tidur, memikirkan apa kejutan yang akan terjadi di hari spesial itu. Sebenarnya saya juga tidak bisa tidur di H-1, tapi memang karena jam tidur saya yang aneh..hehe..

Bagaimana dengan saya? Sudah beberapa tahun belakangan ini saya memiliki cara pandang yang berubah tentang makna ulang tahun. Saya menjadi orang yang selalu berusaha menyembunyikan tanggal lahir saya dari orang lain. Aneh memang...kalau kata orang "sok misterius" hahaha..

Saya sengaja menyembunyikan tanggal lahir karena beberapa alasan. Kenapa? Karena orang-orang pintar membuat saya bingung tentang kapan sebenarnya saya lahir, mereka tidak menemukan kata mufakat antara mana yang benar, apakah kalender dengan perhitungan Matahari atau perhitungan Bulan, jadi saya tidak yakin kapan tanggal sebenarnya saya lahir (ini bercanda....tapi boleh juga! XD). Salah satu alasan adalah saya sengaja, antara menjadikan hari itu biasa saja atau malah spesial dengan membiarkan tanggal lahir saya diketahui oleh hanya sedikit orang. Dengan seperti itu, saya saya tau mana orang-orang yang memang benar-benar perhatian dengan saya, mereka tidak hanya menganggap saya sebagai teman atau saudara hanya ketika mereka butuh. Tapi ternyata keberadaan sosial media sedikit mengacaukan tujuan tersebut..hahaha..satu orang mengucapkan lewat sosial media, orang-orang lain yang lihat akan ikut-ikutan ngucapin (walaupun begitu saya tetap bisa tau mana yang memang benar-benar ingat). Terima kasih bagi teman-teman dan saudara-saudara yang mengucapkan melalui sms, telpon atau secara langsung.

Alasan lainnya adalah, akhir-akhir ini saya sedang berusaha untuk memaknai tiap hari, minimal tiap minggu yang telah saya jalani. Saya melakukan sesuatu yang pernah saya baca disebuah tulisan (lupa tulisan siapa). Saya memperkirakan sampai umur berapa saya hidup, dan membagi perkiraan hidup saya dalam tiap minggu. Setiap minggu saya menghitung mundur sisa perkiraan hidup saya (saya pribadi menghitung dengan membayangkan saya memiliki sejumlah kelereng yang jumlahnya sama dengan perkiraan umur saya dan tiap minggu membuangnya satu-persatu), dan merenungkan apa yang telah saya lakukan selama seminggu sebelumnya, apakah saya menjadi lebih baik atau tidak. Dengan seperti itu saya tidak perlu menunggu selama satu tahun untuk merenungkan apa, siapa, bagaimana, mengapa saya selama setahun belakangan dan tahun selanjutnya. Dengan begitu rasa spesial di tanggal tertentu menjadi semakin pudar.

Tambahan, saya juga menghindari ditodong orang untuk traktiran!! hahaha....dan juga saya takut dengan berbagai kejutan dan dipermalukan di depan umum.

Tapi bagaimana pun dengan tambahan buntut ini saya sedikit menyadari berbagai perubahan. Tanpa bermaksud apa-apa, tapi saya merasa bahwa pandangan saya terhadap kehidupan sekitar jauh berbeda. Saya kadang menjadi semakin lupa dengan kebutuhan saya sendiri, walau kadang muncul suatu perasaan pamrih ketika akhirnya orang menjadi memanfaatkan saya.

Menyadari hal itu, harapan saya di tahun ini adalah semoga saya menjadi semakin memiliki rasa empati, sehingga bisa membantu orang-orang disekitar saya; memiliki kesabaran dan keikhlasan sehingga tidak akan muncul suatu rasa pamrih ketika membantu mereka; dan menjadi lebih bijaksana sehingga ketika membantu orang bukan malah menjadikan masa depan mereka menjadi tergantung orang lain atau dengan kata lain agar orang yang saya bantu menjadi lebih baik atau mandiri. Oh iya...dan tentunya semoga semua doa yang terucap dikabulkan...aamiin...

Sekian
KEEP MOVING FORWARD! (^^,)

Sabtu, 30 Juli 2011

Siapa Sih yang Nentuin Halal dan Haram?

Inget beberapa dialog keluarga di film Alangkah Lucunya Negeri Ini:
dialognya insya Allah kaya gini *agak lupa*:

Ibu *lagi ngerjain TTS*: "Siapa sih yang nentuin halal dan haram?"
Ayah: "MUI!"
Ibu: "bukan...5 huruf kok...."
Anak: "ALLAH, bu!"

Hahaha....kadang hal-hal sepele bahkan dasar seperti itu kita sering melupakannya..

Seperti halnya kita menilai benar dan salah terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain..mungkin untuk beberapa hal tidak masalah atau bahkan mungkin dianjurkan untuk mengingatkan orang lain...namun sadarkah kita kadang kita menyimpulkan benar atau salah, pahala atau dosa atas apa yang sebenarnya kita sendiri tidak mengerti dan paham, yang kita hanya baru curi dengar dari obrolan atau baca sekilas dari tulisan orang lain? kadang kita menarik kesimpulan dari sesuatu yang kebenaran informasinya pun masih simpang siur (inget cerita "Pasar Sapi dan Pasar Saham)...

Lebih parahnya lagi, kadang kita memaksakan kehendak kita agar orang lain sepaham dengan kita, kalau mereka tidak mau, kita akan menebar ancaman, aniaya, teror terhadap orang yang tidak sepaham dengan kita (insya Allah dan semoga saya tidak seperti itu).

Saya sendiri kadang-kadang juga ragu-ragu sebenarnya apa yang saya lakukan benar atau tidak untuk beberapa hal yang kata orang lain salah apabila saya lakukan. Tapi saya yakin kalau selama apa yang saya lakukan tidak menyakiti orang lain atau membuat kerusakan bagi dunia ini, walaupun mendapat tentangan dari orang lain, dan jika hati saya berkata saya memang harus melakukan hal itu, maka akan saya lakukan. Urusan benar atau salah, dosa atau tidak, biar Allah yang menentukan.

Begitu juga saya berusaha membuat mindset seperti itu ketika menilai orang (walau yang satu ini masih susah dan sering saya langgar), saya berusaha untuk berpikir bahwa apa yang orang lain lakukan (untuk hal2 yang saya masih belum yakin) biarlah itu urusan mereka dengan Tuhan.

Siapa kita hingga sebegitu kurang ajarnya mendahului Yang Maha Menilai?


*maaf bagi pencinta film ALNI kalau saya ngasal dalam mencuplik dialog dalam film itu :D 
*hanya pemikiran pribadi, tidak ada maksud untuk menyindir atau mendiskreditkan seseorang*

Rabu, 29 Juni 2011

Sederhana dalam Mengungkapkan Kebahagiaan

"Alhamdulillah!!!! akhirnya gw ketrima di blablabla...gw dapet blablabla....g nyangka gw dapet nilai 98! padahal usaha gw cuman segini...."

Adakah yang salah dengan pernyataan di atas? ungkapan rasa syukur terhadap pencapaian kita memang bukanlah sesuatu yang salah atau dilarang. Tapi apa rasanya jika kalian berada dalam posisi menjadi orang yang sedang dalam pengharapan untuk mendapatkan apa yang dicapai oleh orang lain tersebut ketika mendengarkan orang itu mengucapkan pernyataan-pernyataan diatas dihadapan kalian? 

Saya yakin pasti ada rasa kecewa, iri sampai-sampai ingin marah kepada mereka ketika kita telah melakukan usaha lebih banyak dari pada seseorang namun malah orang tersebut yang berhasil mencapai apa yang kita harapkan.

Saya akhir-akhir ini juga merasakan dan melihat beberapa atau bahkan mungkin bisa dibilang banyak tentang kejadian ini...karena akhir-akhir ini adalah masa-masa pencarian magang, masa-masa nilai ujian keluar hingga pengumuman snmptn anak-anak sma yang akan menjadi calon mahasiswa. Sering saya sendiri merasa kesal dengan teman saya yang koar-koar mendapatkan nilai bagus dengan usaha yang tidak seberapa, berkoar-koar mereka telah diterima magang disana-sini, melihat adik-adik yang lolos snmptn di universitas tertentu...mereka tidak hanya mengungkapkan rasa syukurnya secara berlebihan namun juga diulang-ulang dihadapan orang-orang yang sedang dalam pengharapan besar untuk mendapat apa yang mereka raih.

Perasaan iri, kecewa dan marah pasti ada di dalam hati orang-orang tersebut, terlebih lagi apabila orang yang beruntung itu melebih-lebihkan dengan menyatakan bahwa usaha yang mereka lakukan hanya sedikit atau mereka sebenernya tidak mengharapkan pencapaian tersebut bahkan yang lebih parah lagi ketika tau bahwa mereka tidak menghargai pencapaian tersebut, contoh dalam hal diterima di universitas yang kita inginkan mereka tidak akan mengambilnya.

Apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan adalah saat kita mendapatkan sesuatu atau dalam keadaan sesuatu kita sebaiknya menyikapi hal tersebut secara sederhana karena mungkin diuar sana banyak orang yang iri atas apa yang kita hadapi, baik itu dalam keadaan positif atau negatif. Yang saya maksud negatif disini adalah ketika mengalami sesuatu yang negatif, kita juga jangan mengeluh secara berlebihan karena hal itu juga bisa menyakiti hati orang yang jauh lebih tidak beruntung daripada kita.

Apabila kita meraih sesuatu cukuplah bersyukur secara sewajarnya, tidak perlu dilebih-lebihkan, kalau kita tidak sanggup menahan perasaan syukur kita, carilah tempat yang tepat agar apa yang kita lakukan tidak menyakiti hati orang lain...

Sekian dulu tulisan hari ini...semoga bermanfaat... Mari kita berusaha menjadi orang yang sederhana, kawan!

*oh iya, saya tidak dalam keadaan iri, kecewa, atau marah dengan orang lain ketika menuliskan post ini...(biar ngak ada yang salah paham.. :D )

akhir kata, KEEP MOVING FORWARD! *slogan yang telah lama terlupakan*

(kok setelah dibaca ulang isinya aneh ya? hahaha...semoga yang baca paham maksudnya..*males ngebenerin*)

Selasa, 14 Juni 2011

Catatan Pribadi Saya: Menyikapi Pendapat Orang Lain

Beberapa waktu lalu saya membaca rally tulisan tentang mantan presiden Soeharto yang ditulis di vivanews beberapa hari belakangan ini. Namun tulisan ini tidak akan membahas tentang hal itu.

Terlepas dari penilaian orang tentang kesengajaan tulisan itu dibuat untuk membuat opini publik karena isu pemberian gelar pahlawan kepada Pak Harto, saya mendapatkan beberapa pelajaran dari hal ini..

Dari komentar-komentar di bawah tiap tulisan kita bisa baca bahwa tidak sedikit orang yang memiliki pandangan negatif terhadap beliau, namun tidak sedikit pula yang mengelu-elukan beliau. Banyak orang yang merasa negara ini belum pernah sehebat kala dibawah kepemimpinan beliau, namun ada pula yang berpendapat bahwa beliau terlalu banyak membuat orang menderita. Saya? saya yakin kalau semua orang itu sebenarnya memiliki fitrah yang baik, kalau pun orang tersebut berbuat salah, pasti ada alasan dibalik semua itu, dan saya pun apabila berada di posisi beliau belum tentu bisa berbuat apa-apa.

Pelajaran yang saya dapat adalah setiap kita mengambil suatu keputusan atau memutuskan untuk bersikap tentang sesuatu, kita harus siap dengan segala feedback dari orang-orang yang memiliki ikatan dengan keputusan tersebut, bisa jadi kita akan mendapat berbagai sanjungan atas keputusan yang kita buat, namun pasti ada juga respon negatif, celaan atau kritikan, atas keputusan itu. Pasti akan ada suatu pro dan kontra, karena tiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam menyikapi suatu hal.

Kadang saat kita khawatir dengan bagaimana respon orang atau saat kita sudah mendengar bahwa banyak orang yang menentang keputusan kita, kita menjadi takut untuk menjalankan keputusan itu atau kalau sudah berjalan kita jadi ragu untuk menlanjutkannya, walaupun kita tau sebenarnya itu adalah keputusan terbaik yang bisa kita lakukan.

Yang saya dapatkan dari kisah Pak Harto dan beberapa pemimpin-pemimpin lainnya adalah mereka berani mengambil keputusan penting walaupun hal itu akan menurunkan krediblitas mereka dimata orang-orang..yah meskipun mengambil keputusan itu memang sudah menjadi kewajiban dari pemimpin-pemimpin tersebut, namun hal itu sangat susah. Saya sering kali memiliki rencana yang menurut saya akan menghasilkan sesuatu yang bagus, namun saya sering tidak jadi merealisasikannya karena saya tidak memiliki keberanian tersebut.

Oh iya, akhir-akhir ini juga santer terdengar berita tentang Ny. Siami. Seorang ibu yang dikucilkan oleh masyarakat disekitarnya hanya karena dia mengajari nilai kejujuran kepada anaknya. Anaknya yang cerdas dipaksa oleh guru disekolahnya untuk memberikan contekan kepada teman-temannya saat ujian berlangsung. Ny. Siami tidak terima dan melaporkan kecurangan tersebut, namun apesnya dia malah dimusuhi oleh orang-orang di kampungnya dan diusir dari kampung itu karena dianggap mencemari nama baik kampung dan sekolah. Ya...begitulah kondisi yang sering terjadi, pendapat mayoritas sering dianggap yang paling benar. Namun setelah terekspos oleh media, dukungan kepada keluarga Ny. Siami menjadi gencar.

Saya salut kepada ny. Siami karena sangat berani memperjuangkan apa yang menurut dia benar. Hal yang sangat susah untuk dilakukan ketika orang-orang disekitar kita telah terbiasa mengatasnamakan kebersamaan atau nama baik untuk membiarkan perbuatan salah dilakukan.

Semoga saya mampu mengambil dan menerapkan apa yang saya pelajari hari ini, menjadi berani menjadi diri saya sendiri, berani tetap teguh terhadap apa yang saya anggap benar, tidak didikte oleh orang lain. Masa depan kita ada di tangan kita sendiri, orang lain tidak akan peduli akan menjadi apa kita di masa yang akan datang.

Ada beberapa pepatah: "Stand for what is right even if you stand alone" dan "We can't please everybody", pertahankan apa yang Anda anggap benar walaupun mungkin hal itu akan membuat Anda tersakiti dan apa pun yang kita lakukan pasti tidak akan mampu memuaskan semua orang, maka jadilah diri sendiri!

Tulisan ini hanya pendapat pribadi dan dikhususkan untuk saya pribadi. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi diri saya dan yang berkenan membaca....
(^^,)

Senin, 13 Juni 2011

Mari Melihat Ke "Bawah"

 Jam-jam segini emang jam-jam yang sangat pas buat "galau"...hahaha...

Apa yang ada dalam pikiran saya sekarang? hmm....saya hanya ingin banyak-banyak bersyukur dan mengajak orang bersyukur tentang bagaimana beruntungnya diri kita saat ini.

Saya merasa sangat beruntung dengan apa yang saya nikmati hingga saat ini. Walaupun sederhana, tapi saya mampu mendapatkan segala kebutuhan yang paling dasar yang benar-benar saya butuhkan.

Saya memiliki keluarga yang lengkap (setidaknya pernah lengkap), makan, minum, tempat tinggal yang walaupun sederhana namun mampu mencukupi kebutuhan hidup saya, keberuntungan-keberuntungan saya, beasiswa untuk menikmati pendidikan yang lebih tinggi, kesehatan, anggota tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan insya Allah sempurna, dan lain sebagainya yang mungkin hampir semua yang saya rasakan dan alami patut untuk disyukuri.

Hal ini tiba-tiba terpikirkan oleh saya karena akhir-akhir ini saya sering "ditampar" ketika menyaksikan banyak orang, khususnya anak-anak kecil yang jauh kurang beruntung jika dibandingkan dengan saya.

Setiap pulang dari kampus, saya sering melihat anak-anak kecil, yang bahkan tingginya tidak melebihi motor saya, mencari uang receh di traffic light. Mereka ngamen, jualan makanan ringan, berlari-lari berlomba dengan teman-temannya diantara mobil-mobil dan motor-motor yang kadang tidak mau berhenti saat lampu merah. Mereka bermain-main dengan bahaya hanya untuk bisa makan seadanya. Kadang apa yang mereka hasilkan harus disetor ke preman atau apalah namanya. Diantara mereka mungkin ada yang hampir tidak pernah ingat ataupun melihat wajah orangtuanya, mereka lahir di jalan, ataupun dibuang oleh orangtuanya.

Bulan kemarin kebetulan di kampus saya diadakan sebuah acara memperingati Kebangkitan Nasional. Dalam event ini ada sebuah acara yang diisi oleh Sanggar Anak Matahari, sebuah sanggar yang berisikan anak-anak jalanan. Di acara ini mereka membawakan sebuah makna Kebangkitan Nasional dari mata mereka. Satu hal yang menggelitik saya adalah saat mereka menyinggung tentang masalah aturan pemerintah yang melarang masyarakat memberikan secara langsung uang kepada para peminta-minta di jalanan. Saya sempat setuju dengan peraturan itu, namun ketika mendengarkan "teriakan" langsung dari anak-anak jalanan ini saya menjadi sedikit ragu. Yaa...memang dalam setiap memahami sesuatu kita harus tidak terfokus pada satu sisi saja. Mungkin memang niatnya baik, tapi semuanya sering terbentur dengan keadaan dan kenyataan yang ada di lapangan.

Selain dari anak jalanan tadi, saya juga "ditampar" oleh beberapa hal lain. Salah satunya dari kegiatan yang baru saya mulai (semoga konsisten menjalaninya), yaitu kunjungan ke RSCM untuk menjenguk anak-anak yang menderita penyakit kanker. Walau saya baru berkunjung kesana satu kali, namun kunjungan itu cukup membuat saya merasa sangat-sangat beruntung dengan apa yang saya nikmati. Disana saya melihat anak-anak kecil terbaring tidak berdaya di ranjang rumah sakit, merasakan sakit yang saya pun tidak  mampu dan berani membayangkannya. Mereka seharusnya masih berlari-lari, bermain dengan teman-temannya, masih menikmati masa kanak-kanak yang menyenangkan diluar sana, bebas dari aturan ini itu, bebas dari pandangan kosong, pemandangan raut muka orang tua yang khawatir dan bingung bagaimana mencari dana untuk membiayai biaya penyembuhan yang diluar jangkauan mereka.


Dari hal-hal itu saya berpikir, diluar saya banyak sekali orang, anak-anak kecil yang jauh kurang beruntung dibanding dengan saya, banyak dari mereka tidak hidup di tempat yang layak, makan dan minum hanya ketika benar-benar butuh dan ada, perhatian serta kasih sayang orang tua dan keluarga yang kurang atau bahkan tidak ada, ingin sekolah namun keadaan tidak memperkenankan, ingin bebas berlari-larian namun mungkin tidak mampu..mungkin karena sakit atau mungkin karena kaki yang dibutuhkan untuk berlari tidak lengkap.

Kita atau saya khususnya jarang sekali untuk bersyukur, selalu mengeluh dengan keadaan saya. Setiap diberi tugas malas untuk mengerjakan, makan harus yang kenyang dan enak, dan kadang tidak dihabiskan, tidak puas dengan barang-barang yang kita miliki, iri dengan gadget-gadget baru teman-teman kita, punya uang lebih langsung kita hambur-hamburkan hanya untuk hal-hal yang tidak ada gunanya sama sekali.

Saya sangat ingin membantu anak-anak yang kurang beruntung itu. Saya sudah mencoba melakukan hal-hal kecil yang semoga akan terus secara konsisten saya lakukan dan tentunya secara nilai menjadi lebih besar. Oh, iya...saya juga senang karena ternyata orangorang di dekat saya juga sedikit-sedikit mulai sadar dengan hal ini, mereka juga dengan caranya masing-masing menunjukan kepedulian mereka.

Saya jadi ingat dengan perkataan-perkataan dosen atau beberapa orang yang pernah saya temui. Banyak terjadi korupsi di negara ini dikarenakan orang-orang terlalu rakus memenuhi keinginan pribadi mereka. Mereka kurang memiliki hati yang "halus", dan menurut saya salah satu cara "memperhalus" hati adalah dengan lebih banyak melihat kebawah, membantu mereka yang kurang beruntung. Orang-orang yang kaya namun masyarakat disekitarnya masih kesulitan untuk mencari makan harusnya malu atas dirinya sendiri, sebegitu rakusnya mereka untuk tidak berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu. Materi tidak akan dibawa mati, Bung!

Semoga orang-orang baik dan dermawan di dunia ini diberi panjang umur sehingga mereka mampu membantu orang-orang yang dilanda oleh kesusahan.

Sebaiknya tulisan ini selesai disini dari pada makin ngelantur..hahaha....
(^^,)

Minggu, 12 Juni 2011

H-4 Menuju UAS

Mendekati minggu-minggu terakhir di semester 6. Banyak sekali yang berelayutan di otak saya, saling berebut untuk dipikirkan terlebih dahulu.

Seperti di semester-semester sebelumnya, hari-hari terakhir seperti ini pasti jadi hari-hari yang paling kacau bagai saya....yaa..maklum, saya harus mengejar ketertinggalan materi-materi kuliah yang belum saya paham (dan banyak!)...hehe, dari sini bisa dilihat kalau saya jarang ada baik secara fisik ataupun pikiran saat kuliah berlangsung. Selain siap-siap buat UAS, saya masih harus mengerjakan tugas-tugas paper dari hampir semua mata kuliah (dem!).

Selain "hectic"nya urusan perkuliahan itu, ada beberapa hal yang sukses bikin saya tidur larut malam (seringnya sih pagi buta)....beberapa diantaranya:
  1. Yang paling bikin pusing, cari tempat magang! udah masukin beberapa surat permohonan magang, tapi belum ada yang nyangkut. Semoga saya segera cepat dapat kepastian, karena kalau g saya terancam g bisa pulang kampung karena masa libur besok bakal masih nyari-nyari tempat magang...T.T
  2. Beberapa hari yang lalu, si kakak masuk RS gara-gara vertigonya kambuh. (semoga cepat sembuh! dan g kambuh-kambuh lagi...[^^,] )
  3. Duit di kantong semakin menipis, jadi kalau siang dibela-belain g makan, atau kalo ada yang lagi makan pura-pura nyicip...hahaha..
  4. Kemarin dapat kabar kalo kondisi Risma, anak yang menderita kanker yang dirawat di RSCM yang pernah saya ceritakan di post sebelumnya, semakin memburuk. Dokter sudah menyatakan menyerah. Semoga Allah menunjukkan keajaiban padanya. Kalau memang masih diperkenankan sembuh, semoga dipercepat kesembuhannya, namun kalau sudah diperkenankan, semoga tidak terlalu menyakitkan buat dia....dan keluarganya....:'(
  5. dan beberapa hal lain..
wew...ternyata setelah ditulis jadi keliatan lebih banyak..hahaha...semoga saya mampu menghadapinya satu-persatu (aamiin). Ya sudah, setelah dari pagi saya cuman buang-buang waktu dengan melakukan kegiatan yang g jelas, sekarang saatnya nyicil tugas dan baca materi buat ujian.


Semangat buat kita semua!!!! \(^^)/