Belakangan ini saya merasa level toleransi saya semakin meningkat. Emang bener kata orang, bisa karena biasa. Orang nggak doyan/bisa makan sayur, tapi setelah dipaksa lama-lama pasti jadi terbiasa (dangkal banget kasih contohnya *takut frontal*).
Dulu saya sering uring-uringan sendiri ketika sesuatu tidak sejalan dengan apa yang saya harapkan, khususnya hal-hal yang ada di luar kendali saya. Ya...kebanyakan uring-uringan sendiri karena saya memang orang yang susah untuk menyampaikan pendapat yang juga disebabkan karena saya orang yang berusaha selalu menghindari konflik dengan orang lain. Yang saya heran, saya merasa hal-hal yang bikin saya uring-uringan itu sering banget terjadi....hahaha...mungkin karena saya terlalu sensitif, atau karena perbedaan-perbedaan yang terlalu besar tentang masalah norma dan etika atau kebiasaan dalam melakukan sesuatu antara saya dengan orang lain.
Akhir-akhir ini saya bisa menjadi sedikit maklum dengan benar-benar memahami (bukan sekedar teori) bahwa perbedaan-perbedaan tersebut memang pasti ada karena perbedaan latar belakang dan pengalaman-pengalaman yang dialami tiap manusia ketika tumbuh hingga sekarang, saat bentukan dari proses tersebut mulai terbentuk dan bersinggungan dengan hasil bentukan-bentukan yang lain. Dan terima kasih kepada keterbiasaan yang akhirnya benar-benar bisa meningkatkan level toleransi saya.
Lalu bagaimana dengan uring-uringannya? apa cukup hanya dengan memahami perbedaan masalah dalam diri itu bisa langsung tuntas? Awalnya memang sangat susah untuk tidak menjadi uring-uringan. Seakan-akan hanya saya yang peduli dan harus berubah sedangkan orang lain dengan tanpa dosa tetap tidak mau berubah (Seakan-akan karena memang sebenernya bukan salah mereka karena memang mereka nggak ngerti apa yang saya harapkan...). Tapi akhirnya dengan berbagai perenungan (ini lebay) dan akhirnya disimpulkan dengan sebuah istilah dari Rhenald Kasali yang kebetulan secara tiba-tiba saya baca, akhirnya saya menemukan jawabannya!
Apa itu? dalam suatu kesempatan saya membaca sebuah artikel tulisan Rhenald Kasali di koran Sindo dan menemukan sebuah istilah "Cara Ibu". Yaa....cara Ibu. Dalam tulisan itu, dibahas cara Ibu Rhenald Kasali dan sangat mrip dengan Ibu saya (dan mungkin ibu anak-anak yang lain) saat menghadapi suaminya ketika sedang marah. Seorang Ibu (kebanyakan) pasti tidak akan balas marah kepada suaminya, dia akan diam saja merenungi kata-kata suaminya, walaupun dia juga kesal namun dia tidak membantah suaminya. Apa yang dilakukan para ibu? Mereka menunjukkan protesnya dengan cara yang lain. Mereka mengalihkan kekesalannya, protesnya, dengan semakin rajin mengerjakan tugas-tugas rumahan, mencuci baju, piring, ngepe, masak, dan sebagainya yang pada akhirnya meluluhkan hati para suami yang menjadi sadar dan merasa bersalah telah berlaku semena-mena terhadap para ibu.
Rhenald Kasali mencontohkan "Cara Ibu" untuk hal yang berbeda dengan pembahasan saya kali ini, jadi yang penasaran silahkandicari sendiri...:D. "Cara Ibu" itu yang saya modifikasi ketika saya menghadapi hal-hal yang diluar kehendak saya. Ketika saya kesal karena ada tugas yang seharusnya tidak saya kerjakan sendiri namun orang-orang yang seharus ikut bertanggung jawab malah sama sekali menunjukkan sikapmasa bodoh, saya akan sengaja mengerjakan tugas itu sendiri hingga ketika akhirnya mereka merasa tidak enak dan berujung ikut mengerjakan. Kadang tiba-tiba saya menghindar yang kemudian akan menimbulkan pertanyaan dikepala orang-orang dengan harapan mereka tau apa yang sebenarnya saya harapkan, dan berbagai cara lain. Ya...begitulah nasib orang yang tidak bisa secara lugas menyampaikan pendapatnya, seperti saya.
Hingga sampai saat ini, cara tersebut lumayan ampuh! Dengan seperti itu, saya jadi tidak uring-uringan lagi karena saya punya kesempatan menunda uring-uringan saya hingga menunggu hasil dari "Cara Ibu" yang saya lakukan, menjadikan saya memiliki semangat lain yang saya juga tidak tau darimana asalnya, merasa bahwa itu bisa menjadi pelajaran bagi saya untuk bisa lebih dari orang lain, menjadi mengerti bahwa saya harus terlebih dahulu memperlakukan orang lain seperti bagaimana saya mengharapkan mereka memperlakukan saya, mengerti mana kepentingan pribadi dan kepentingan umum dimana saya harus memperhatikan perasaan dan kepentingan orang lain, dsb......dan tentunya saya bisa senyum-senyum dan ketawa ketika mengingat-ingat betapa bodohnya saya bila saya menyikapinya dengan uring-uringan nggak jelas yang pastinya nggak bakal nyelesaiin masalah.
Semoga "Cara Ibu" itu merupakan jawaban yang paling tepat atas masalah saya yang satu ini. Mari memperdalam Life Skills!! hidup tidak hanya sekedar bersenang-senang memenuhi kepentingan pribadi, namun juga harus berguna bagi atau minimal tidak mengganggu orang lain!
Keep Moving Forward! (^^,)
Minggu, 09 Oktober 2011
Jumat, 07 Oktober 2011
Yang Ngeganjel Dikeluarin
Akhir-akhir ini entah kenapa sering dilihatkan tentang orang sedang memarahi anaknya karena jatuh dari motor, ngerusak barang, ngilangin barang, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kesalahan anaknya.
Saya jadi ingat tentang orang tua saya yang seingat saya jarang sekali atau bahkan bisa saya bilang tidak pernah memarahi saya apabila saya membuat kesalahan-kesalahan seperti itu. Saya pernah kecelakaan, nabrak orang yang sedang nyebrang karena naik motor agak kenceng, dan kebetulan pas nggak pake kacamata jadi saya benar-benar g liat ada orang nyebrang (baru sadar pas udah jatuh). Motor rusak, hampir digebukin orang, sampe rumah dianter tentara (nabrak dideket kompleks tentara), badan nggak karuan lecet disana-sini; tapi sampai rumah, orang tua, khususnya bapak, yang responnya paling saya takuti, justru malah sangat tenang seolah-olah menganggap bukan saya yang salah, bahwa memang itu resiko orang berkendara. Pernah saya kehilangan beberapa barang atau ngerusak barang yang penting tapi beliau bilang: "ya mau gimana lagi? emang udah saatnya ilang/rusak!", mengajarkan kepada saya bahwa tidak ada gunanya marah-marah karena marah tidak akan menyelesaikan masalah, dalam hal ini nggak mungkin bapak marah ke saya trus tiba-tiba barang yang rusak/ilang bisa bener lagi/muncul..hahaha...Dan beberapa kesalahan-kesalahan saya yang lolos dari amarah beliau..
Boleh jadi kata orang dengan membiarkan anak berbuat salah, khususnya kesalahan besar seperti itu bisa membuat anak menjadi manja, menjadikan anak tidak jera untuk tidak berhati-hati sehingga mengulangi kesalahan yang sama. Kalo dilihat-lihat, pernyataan ini sangat benar, emang orang kalo udah dibiasakan enak, akan menjadi ketagihan.
Aih, saya jadi lupa tujuan sebenernya kenapa bikin post ini...hahaha.... *brb ngopi*
.
.
.
.
..
.....
Ah beneran lupa!
Ya udah, biar nggak berhenti ditengah jalan, saya cuman ingin bilang bahwa cara bapak saya yang memperlakukan saya seperti itu, bukan malah membuat saya manja, namun malah menjadikan saya tidak enak untuk melakukan kesalahan lagi. Saya tidak enak kalau membuat orang tua saya kepikiran, saya tidak ingin menjadikan orang tua sebagai tameng atas apa yang saya perbuat; walaupun saya tahu sebagai orang tua tentunya mereka tidak ingin melihat anaknya kesusahan..tapi santai..saya pintar berakting dalam hal ini. Oh iya.....dilain itu dengan hal ini juga membuat saya toleransi dengan berbagai hal yang saya miliki.
Entah kenapa saya merasa bersyukur dengan apa yang mereka ajarkan kepada saya, walau saya juga masih belum mengerti mana yang benar mana yang salah....antara menjadi orang yang berhai-hati, posesif terhadap apa yang dimiliki sehingga meminimalisir kerugian orang tersebut, atau sebaliknya, yang tentunya makin banyak kerugian "materi" yang muncul, tapi insya Allah tidak untuk hal-hal "non-materi", seperti? silahkan dipikir :p... (semoga yang baca ngerti maksudnya, karena saya juga nggak ngerti kenapa bahas sampai sini).
Hahaha...sepertinya perlu dicukupkan sampai disini karena saya lapar sebelum makin kemana-mana...
Keep Moving Forward!! (^^,)
Minggu, 02 Oktober 2011
Demi Mereka
Sehari lagi dan kehidupan yang akan saya jalani bakalan jauh berbeda dari biasanya, dengan adanya tambahan satu kegiatan baru...
Apakah saya akan mampu menyeimbangkan porsi dari aktivitas saya?
Apakah saya tetap bisa menentukan mana hal-hal yang perlu diprioritaskan terlebih dahulu?
Apakah saya tetap bisa menjaga hubungan baik, baik dengan teman-teman maupun dengan keluarga saya?
Apakah badan saya kuat dengan berbagai kegiatan penguras tenaga ini?
Apakah...
Apakah..
Apakah.........
Inti sebenarnya adalah apakah saya siap menerima tantangan ini tanpa banyak mengorbankan berbagai hal yang tak kalah penting?
Tapi bagaimanapun saya benar-benar membutuhkan kegiatan ini. Entah bagaimana hasilnya nanti, apakah saya akan bisa menjalaninya dengan baik atau tidak, saya tetap harus mengambil keputusan untuk menjalani kegiatan ini. Tidak ada keputusan yang salah, hasil yang buruk muncul bukan karena keputusan diawal, namun dikarenakan proses yang dilakukan kurang tepat. Jadi mumpung belum benar-benar dimulai, saya harus berkomitmen dengan diri saya sendiri untuk berusaha semaksimal mungkin dalam menjalani kegiatan baru ini......demi senyum yang akan tergambar di raut muka mereka...
Bismillah....
Keep Moving Forward! (^^,)
Minggu, 25 September 2011
Hindari Baca Post yang Satu Ini
Keterbatasan seharusnya tidak menghalangi seseorang untuk berbuat baik.
Suatu kata yang sangat memotivasi namun susah sekali untuk dilakukan. Bagaimana kita mau membantu orang lain ketika sebenarnya diri kita sendiri masih membutuhkan bantuan orang lain? masih belum bisa mandiri sepenuhnya dari dukungan orang lain?. Kerelaan, ketulusan, serta keikhlasan yang luar biasa sangat dibutuhkan untuk bisa melakukannya.
Ya...mau nggak mau saya harus bisa sukses terlebih dahulu sebelum secara intens mau membantu orang lain. Untuk sekarang saya hanya bisa berusaha semaksimal apa yang saya mampu sekarang sekaligus membiasakan diri dan lupa ketika insya Allah sudah sukses... Mulai saat ini harus dibiasakan prihatin, mencoba menahan diri dengan godaan-godaan dunia yang menyenangkan namun hanya bisa dirasa sekejap.
Tolong bagi yang berkesempatan membaca tulisan ini, bantu saya dengan tidak menggoda saya dengan tawaran-tawaran yang berpotensi menghambur-hamburkan duit saya. Jangan membuat iri saya dengan "blink-blink" itu....Silahkan Anda berfoya-foya namun jangan menggoda saya.... *sumpah ini terlalu dibuat2 hahahaha...*
Udah ah stress laporan magangnya...ternyata menulis -walau isinya ngaco- bisa jadi obat stress yang lumayan manjur...
Mari dilanjut bikin laporan magangnya....Sayonara! :D
Minggu, 18 September 2011
Semester 7 dan Saya Semakin Aneh
Peringatan!! dianjurkan untuk tidak membaca kalau tidak suka tulisan yang nggak jelas intinya kemana..
Semester baru!
Akhirnya besok senin perkuliahan semester 7 mulai lagi...err..sebenernya udah dimulai 2 bulan yang lalu, karena magang yang penilaiannya masuk di semester 7 udah dimulai duluan.
Saya menghadapi semester ini dengan berbagai hal yang berbeda dari semester-semester sebelumnya. Saya mulai kontrak rumah bareng temen-temen, mengambil kelas malem, dan mulai merasakan bahwa dalam diri saya terjadi perubahan orientasi dan pandangan tentang apa yang sebenarnya ingin saya raih.
Mengenai yang saya sebut terakhir, berbagai hal seakan-akan secara kebetulan datang dengan membawa pelajaran yang sama bagi saya. Mulai dari bagaimana hidup bersama dengan teman-teman, yang tentunya terasa berbeda dengan ketika kita hidup bersama keluarga; pelajaran-pelajaran dari kegiatan magang, tentang bagaimana berhubungan dengan partner kerja, supervisor, dan tentunya berbagai macam orang yang memiliki latar belakang dan memiliki kepentingan yang berbeda; pelajaran-pelajaran dari buku-buku yang saya baca dengan inti yang hampir sama, yang seolah-olah mereka memang ditakdirkan untuk saya baca; film, walau akhir-akhir ini saya jarang nonton; twitter, tentang bagaimana celetukan-celetukan teman-teman saya tentang bagaimana mereka menyikapi apa yang ada di sekitar mereka; musik, yang walaupun dari lirik tidak ada hubungannya dengan perubahan ini, namun berbagai musik yang saya senang dengarkan akhir-akhir ini seakan-akan memiliki irama yang khas yang selalu membawa saya kepemikiran-pemikiran tertentu ketika mendengarkannya; dan juga yang saya lihat dari pengalaman-pengalaman orang lain dan bagaimana mereka menyikapinya. Tentang apa saja kah perubahan2 pandangan itu? Saya tidak bisa menjelaskannya secara detail sekarang. Namun intinya adalah saya harus bisa melepaskan diri dari menjadi beban orang lain menuju suatu keadaan dimana saya menjadi lebih berguna bagi orang lain.
Mungkin satu contoh, hal ini juga turut mempengaruhi keputusan saya soal kontrak-mengontrak *ngaco bikin istilah*, selain karena pertimbangan saya akan bisa lebih "produktif", sebenernya adalah salah satu bentuk keinginan saya untuk bisa lebih mandiri, bukan hanya mandiri dalam artian hidup tidak bersama dengan keluarga, namun juga mandiri dalam mengatur keuangan. Mungkin timbul pertanyaan: "Kenapa begitu? Kan sama aja, cuman beda tempat doang tapi tetep minta sokongan dari orang tua." Untuk hal ini saya memutuskan untuk lebih prihatin; saya berusaha untuk tidak akan menjadi beban ayah saya lagi, saya harus bisa memenuhi kebutuhan pribadi saya dengan usaha sendiri. Dengan cara seperti apa? Saya juga masih cari solusinya...(benar-benar gambling, namun semoga cepat terselesaikan...aamiin..)
Soal kelas malam. Saya berharap bahwa keputusan untuk mengambil opsi ini akan mempermudah saya untuk dapat mencapai apa yang menjadi tujuan-tujuan saya tersebut, dan menurut saya, dibanding saya mengambil kelas pagi, opsi ini memang akan lebih mampu memberi saya waktu untuk melakukan "hal" itu.
Untuk bisa melakukan hal ini, ada beberapa hal yang perlu saya pegang, salah satunya adalah saya harus bisa sedikit demi sedikit mengurangi "ke-aku-an" dari diri saya. Saya tidak boleh iri dengan berbagai nikmatnya "ke-aku-an" yang dirasakan oleh orang lain sehingga saya putus asa dan hilang komitmen, berbalik lagi menjadi orang yang hanya mementingkan kepuasan pribadi.
Dan di semester 7 ini, saya merasakan bahwa akan terjadi menjadi momentum itu. Jadi, mulai sekarang saya harus mulai membiasakan diri. Saya sudah mencoba di bulan-bulan terakhir ini, dan memang godaannya sangat luar biasa. Perasaan sedih, marah, kesal, iri dan yang paling susah untuk dihindari: pamrih! satu-persatu muncul, ketika saya merasa capek, merasa apa yang saya lakukan sia-sia, merasa tidak adil ketika saya mengharapkan timbal balik tertentu namun saya malah tidak mendapat apa-apa bahkan malah merasa dimanfaatkan......yang semua ini menunjukkan bahwa saya pada dasarnya masih susah untuk melepaskan "ke-aku-an" atau mementingkan diri sendiri. Saya yakin itu semua adalah proses yang harus dihadapi, dan saya hanya perlu untuk menjadi terbiasa dengan hal itu.
Terakhir, semoga saya selalu diberi kebijaksanaan dalam memilih jalan mana yang akan saya tempuh dan diberi petunjuk agar tidak tersesat. Semoga saya selalu disadarkan untuk selalu bisa berkomitmen dan tidak mudah putus asa, karena saya yakin kali ini saya akan berbuat sesuatu yang baik (malu dong udah 21 tapi nggak sadar-sadar!).
*sumpah saya nggak ngerti abis curcol apaan (takut baca ulang dari atas)*
Sabtu, 20 Agustus 2011
21
Tidak terasa beberapa hari yang lalu saya telah berhasil mengulang tanggal dan bulan yang sama dalam hidup saya.
Bagi sebagian orang, mungkin yang namanya ulang tahun adalah saat-saat spesial yang paling ditunggu. Sampai saking bersemangatnya mereka hingga sering H-1 mereka tidak bisa tidur, memikirkan apa kejutan yang akan terjadi di hari spesial itu. Sebenarnya saya juga tidak bisa tidur di H-1, tapi memang karena jam tidur saya yang aneh..hehe..
Bagaimana dengan saya? Sudah beberapa tahun belakangan ini saya memiliki cara pandang yang berubah tentang makna ulang tahun. Saya menjadi orang yang selalu berusaha menyembunyikan tanggal lahir saya dari orang lain. Aneh memang...kalau kata orang "sok misterius" hahaha..
Saya sengaja menyembunyikan tanggal lahir karena beberapa alasan. Kenapa? Karena orang-orang pintar membuat saya bingung tentang kapan sebenarnya saya lahir, mereka tidak menemukan kata mufakat antara mana yang benar, apakah kalender dengan perhitungan Matahari atau perhitungan Bulan, jadi saya tidak yakin kapan tanggal sebenarnya saya lahir (ini bercanda....tapi boleh juga! XD). Salah satu alasan adalah saya sengaja, antara menjadikan hari itu biasa saja atau malah spesial dengan membiarkan tanggal lahir saya diketahui oleh hanya sedikit orang. Dengan seperti itu, saya saya tau mana orang-orang yang memang benar-benar perhatian dengan saya, mereka tidak hanya menganggap saya sebagai teman atau saudara hanya ketika mereka butuh. Tapi ternyata keberadaan sosial media sedikit mengacaukan tujuan tersebut..hahaha..satu orang mengucapkan lewat sosial media, orang-orang lain yang lihat akan ikut-ikutan ngucapin (walaupun begitu saya tetap bisa tau mana yang memang benar-benar ingat). Terima kasih bagi teman-teman dan saudara-saudara yang mengucapkan melalui sms, telpon atau secara langsung.
Alasan lainnya adalah, akhir-akhir ini saya sedang berusaha untuk memaknai tiap hari, minimal tiap minggu yang telah saya jalani. Saya melakukan sesuatu yang pernah saya baca disebuah tulisan (lupa tulisan siapa). Saya memperkirakan sampai umur berapa saya hidup, dan membagi perkiraan hidup saya dalam tiap minggu. Setiap minggu saya menghitung mundur sisa perkiraan hidup saya (saya pribadi menghitung dengan membayangkan saya memiliki sejumlah kelereng yang jumlahnya sama dengan perkiraan umur saya dan tiap minggu membuangnya satu-persatu), dan merenungkan apa yang telah saya lakukan selama seminggu sebelumnya, apakah saya menjadi lebih baik atau tidak. Dengan seperti itu saya tidak perlu menunggu selama satu tahun untuk merenungkan apa, siapa, bagaimana, mengapa saya selama setahun belakangan dan tahun selanjutnya. Dengan begitu rasa spesial di tanggal tertentu menjadi semakin pudar.
Tambahan, saya juga menghindari ditodong orang untuk traktiran!! hahaha....dan juga saya takut dengan berbagai kejutan dan dipermalukan di depan umum.
Tapi bagaimana pun dengan tambahan buntut ini saya sedikit menyadari berbagai perubahan. Tanpa bermaksud apa-apa, tapi saya merasa bahwa pandangan saya terhadap kehidupan sekitar jauh berbeda. Saya kadang menjadi semakin lupa dengan kebutuhan saya sendiri, walau kadang muncul suatu perasaan pamrih ketika akhirnya orang menjadi memanfaatkan saya.
Menyadari hal itu, harapan saya di tahun ini adalah semoga saya menjadi semakin memiliki rasa empati, sehingga bisa membantu orang-orang disekitar saya; memiliki kesabaran dan keikhlasan sehingga tidak akan muncul suatu rasa pamrih ketika membantu mereka; dan menjadi lebih bijaksana sehingga ketika membantu orang bukan malah menjadikan masa depan mereka menjadi tergantung orang lain atau dengan kata lain agar orang yang saya bantu menjadi lebih baik atau mandiri. Oh iya...dan tentunya semoga semua doa yang terucap dikabulkan...aamiin...
Sekian
KEEP MOVING FORWARD! (^^,)
Sabtu, 30 Juli 2011
Siapa Sih yang Nentuin Halal dan Haram?
Inget beberapa dialog keluarga di film Alangkah Lucunya Negeri Ini:
dialognya insya Allah kaya gini *agak lupa*:
Ibu *lagi ngerjain TTS*: "Siapa sih yang nentuin halal dan haram?"
Ayah: "MUI!"
Ibu: "bukan...5 huruf kok...."
Anak: "ALLAH, bu!"
Hahaha....kadang hal-hal sepele bahkan dasar seperti itu kita sering melupakannya..
Seperti halnya kita menilai benar dan salah terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain..mungkin untuk beberapa hal tidak masalah atau bahkan mungkin dianjurkan untuk mengingatkan orang lain...namun sadarkah kita kadang kita menyimpulkan benar atau salah, pahala atau dosa atas apa yang sebenarnya kita sendiri tidak mengerti dan paham, yang kita hanya baru curi dengar dari obrolan atau baca sekilas dari tulisan orang lain? kadang kita menarik kesimpulan dari sesuatu yang kebenaran informasinya pun masih simpang siur (inget cerita "Pasar Sapi dan Pasar Saham)...
Lebih parahnya lagi, kadang kita memaksakan kehendak kita agar orang lain sepaham dengan kita, kalau mereka tidak mau, kita akan menebar ancaman, aniaya, teror terhadap orang yang tidak sepaham dengan kita (insya Allah dan semoga saya tidak seperti itu).
Saya sendiri kadang-kadang juga ragu-ragu sebenarnya apa yang saya lakukan benar atau tidak untuk beberapa hal yang kata orang lain salah apabila saya lakukan. Tapi saya yakin kalau selama apa yang saya lakukan tidak menyakiti orang lain atau membuat kerusakan bagi dunia ini, walaupun mendapat tentangan dari orang lain, dan jika hati saya berkata saya memang harus melakukan hal itu, maka akan saya lakukan. Urusan benar atau salah, dosa atau tidak, biar Allah yang menentukan.
Begitu juga saya berusaha membuat mindset seperti itu ketika menilai orang (walau yang satu ini masih susah dan sering saya langgar), saya berusaha untuk berpikir bahwa apa yang orang lain lakukan (untuk hal2 yang saya masih belum yakin) biarlah itu urusan mereka dengan Tuhan.
Siapa kita hingga sebegitu kurang ajarnya mendahului Yang Maha Menilai?
*maaf bagi pencinta film ALNI kalau saya ngasal dalam mencuplik dialog dalam film itu :D
*hanya pemikiran pribadi, tidak ada maksud untuk menyindir atau mendiskreditkan seseorang*
dialognya insya Allah kaya gini *agak lupa*:
Ibu *lagi ngerjain TTS*: "Siapa sih yang nentuin halal dan haram?"
Ayah: "MUI!"
Ibu: "bukan...5 huruf kok...."
Anak: "ALLAH, bu!"
Hahaha....kadang hal-hal sepele bahkan dasar seperti itu kita sering melupakannya..
Seperti halnya kita menilai benar dan salah terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain..mungkin untuk beberapa hal tidak masalah atau bahkan mungkin dianjurkan untuk mengingatkan orang lain...namun sadarkah kita kadang kita menyimpulkan benar atau salah, pahala atau dosa atas apa yang sebenarnya kita sendiri tidak mengerti dan paham, yang kita hanya baru curi dengar dari obrolan atau baca sekilas dari tulisan orang lain? kadang kita menarik kesimpulan dari sesuatu yang kebenaran informasinya pun masih simpang siur (inget cerita "Pasar Sapi dan Pasar Saham)...
Lebih parahnya lagi, kadang kita memaksakan kehendak kita agar orang lain sepaham dengan kita, kalau mereka tidak mau, kita akan menebar ancaman, aniaya, teror terhadap orang yang tidak sepaham dengan kita (insya Allah dan semoga saya tidak seperti itu).
Saya sendiri kadang-kadang juga ragu-ragu sebenarnya apa yang saya lakukan benar atau tidak untuk beberapa hal yang kata orang lain salah apabila saya lakukan. Tapi saya yakin kalau selama apa yang saya lakukan tidak menyakiti orang lain atau membuat kerusakan bagi dunia ini, walaupun mendapat tentangan dari orang lain, dan jika hati saya berkata saya memang harus melakukan hal itu, maka akan saya lakukan. Urusan benar atau salah, dosa atau tidak, biar Allah yang menentukan.
Begitu juga saya berusaha membuat mindset seperti itu ketika menilai orang (walau yang satu ini masih susah dan sering saya langgar), saya berusaha untuk berpikir bahwa apa yang orang lain lakukan (untuk hal2 yang saya masih belum yakin) biarlah itu urusan mereka dengan Tuhan.
Siapa kita hingga sebegitu kurang ajarnya mendahului Yang Maha Menilai?
*maaf bagi pencinta film ALNI kalau saya ngasal dalam mencuplik dialog dalam film itu :D
*hanya pemikiran pribadi, tidak ada maksud untuk menyindir atau mendiskreditkan seseorang*
Langganan:
Postingan (Atom)