Wah udah lama g ngeblog...
Yah...Akhir-akhir ini saya sedang (merasa) sangat sibuk. Laporan magang, skripsi, kuliah, magang, dan berbagai hal lain...Dari berbagai hal tersebut, hanya magang dan kuliah yang sebenernya saya lakukan sisanya hanya sibuk dipikiran..hahaha...makanya saya bilang "merasa sangat sibuk"...
Sudah menjadi kebiasaan umum, atau mungkin hanya saya sendiri, ketika sudah berada diujung dunia perkuliahan seperti ini, banyak sekali hal-hal yang bikin (sedikit) tertekan. Saya sendiri sekarang sedang membingungkan apakah harus fokus untuk ngerjain skripsi biar cepet lulus atau memilih skripsi sambil tetap magang yang berarti proses pembuatan skripsi juga mungkin akan sedikit terhambat.
Saya masih tidak tau jawaban mana yang tepat bagi kondisi saya sekarang. Saya sangat ingin lulus cepat, siapa juga yang tidak mau? Tapi yang menjadi pertimbangan saya saat ini adalah apa modal saya menghadapi kehidupan setelah lulus? sudah cukup kah pengalaman saya? sudah berwarnakah CV saya sehingga setelah lulus tidak perlu galau lagi kesulitan mencari tempat untuk bekerja, tempat penopang hidup mandiri?...Yah sebagai anak terakhir dan satu-satunya anak lelaki dalam keluarga saya, setidaknya saya tidak boleh selalu menyusahkan keluarga, lebih bagus lagi kalau saya bisa menjadi tumpuan keluarga. Dan melihat modal saya yang sangat minim itu, maka saya berkeputusan untuk mencari pengalaman dengan cara magang dan berusaha agar skipsi saya bisa selesai sebelum tenggat waktu yang ditetapkan (karena ada syarat lulus dalam waktu tertentu karena saya mendapat beasiswa).
Kalau dipikir-pikir, untuk saat ini nasib kelancarannya ada di tangan saya pribadi. Tempat saya magang sudah memberi lampu hijau, bahkan sangat mendukung saya untuk mengambil data di sana; dosen pembimbing juga sangat supportif dengan apa yang saya inginkan; keluarga sudah menyerahkan seluruh kepercayaannya kepada saya (orang tua tidak pernah menanyakan sudah sejauh mana skripsi saya, namun selalu memberi semangat, mereka tidak mau memberikan tekanan terhadap saya), keluarga Oom dimana saya tinggal sekarang juga memberi kebebasan bagi saya untuk melakukan apa saja yang menurut saya nyaman bagi studi saya.
Sekarang saya harus bisa mempertimbangkan bagaimana cara yang paling tepat bagi saya. Pencarian pengalaman untuk manfaat di masa yang akan datang bisa saya dapat, skripsi yang isinya tidak hanya bermanfaat bagi saya juga bisa diselesaikan pada waktu yang tepat (karena bisa saja saya selesai skripsi cepat namun isinya hanya seakan sebagai syarat asal saya lulus saja). Saya tidak boleh iri dengan pencapaian orang lain, karena saya berbeda dengan orang lain. Orang lain bisa jadi sudah siap untuk lulus cepat, modal mereka sudah cukup, atau mungkin tidak punya tanggungan setelah lulus, atau memang mereka tidak peduli dengan hal-hal semacam itu, dsb.
Semoga saya bisa tetap terus menjaga komitmen dan bisa konsisten menjalaninya.
Saya percaya ketika saya menyertakan orang lain ke dalam cita-cita saya, maka cita-cita tersebut akan sangat bermakna dan kemungkinan untuk terkabul menjadi lebih besar...Aamiin...
*ditulis dalam kejenuhan ketika sedang mengumpulkan jurnal untuk referensi membuat info memo*
**besok rabu saya harus bisa mempertahankan info memo di depan Dosen Pembimbing agar bisa dilanjutkan menjadi proposal skripsi....doakan saya! :D**
***semoga bisa menambah pandangan teman-teman yang memiliki masalah yang sama. Jangan terlalu membandingkan kita dengan orang lain, karena kebutuhan, prioritas dan kepentingan kita memang berbeda***
Tampilkan postingan dengan label Dunia Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Kuliah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 03 Desember 2011
Senin, 05 Juli 2010
Di atas Langit Masih ada Langit
hmmmm.....lagi pengen nulis tentang kuliah dan pemikiran gue....semoga nyambung dengan judulnya...hehehe...
Here we goooooo.....
Gue adalah seorang mahasiswa semester 4..hampir semester 5 lebih tepatnya, jurusan akuntansi di Universitas Bakrie. Pada awalnya, gue sama sekali g ada bayangan untuk masuk di jurusan ilmu sosial manapun, karena dulu waktu gue sma, ada pandangan kalau anak2 sosial itu adalah anak2 buangan yang sebenernya pengen masuk ke jurusan eksakta namun karena kendala nilai, sehingga mereka secara terpaksa harus masuk ke jurusan sosial...yaa walaupun pasti ada 1-2 anak yang emang pada dasarnya udah pengen masuk ke jurusan itu. Jujur kala itu, gue memandang sebelah mata jurusan sosial. Gue berpendapat kalo ilmu sosial itu adalah ilmu yang semua orang pasti bisa menguasainya dengan sangat mudah, walaupun sampai saat ini gue juga belum tau pasti apakah pendapat gue itu benar atau tidak.
Singkat cerita, akhirnya gue memasuki tahapan akhir masa sma dimana semua siswa kelas 3 berbondong-bondong untuk mencari tempat kuliah yang bakal jadi batu loncatan untuk bisa masuk di dunia kerja kedepannya (yah seperti itulah pendapat umum yang beredar saat ini). Gue saat itu cuman daftar UM UGM, dan yaa...bisa ditebak..jurusan2 yang gue pilih semua adalah yang berkaitan dengan ilmu pasti. Namun, selain itu, gue juga mendaftar di Universitas Bakrie d/h Bakrie School of Management, yang hanya memiliki jurusan akuntansi dan menejemen(pada waktu itu) yang keduanya adalah termasuk ilmu sosial. Gue tertarik mendaftar karena iming2 kuliah gratis sampai lulus.
Akhirnya gue pun diterima di UB, dan pengumuman penerimaan itu tepat sehari sebelum dilaksanakannya UM UGM. Dan karena pertimbangan berbagai hal, khususnya ekonomi keluarga gue yang kurang, maka akhirnya gue memutuskan untuk mengambil beasiswa tersebut dan melupakan UM UGM, sehingga gue g lulus UM.
Sebenernya ada pertimbangan lain mengapa gue mengambil jurusan akuntansi ini. Gue berpikir kalau gue bakalan sukses....yaa minimal bisa lah menjadi diatas rata2 di kampus ini. Gue menyimpulkan bahwa kalau nilai gue di ilmu pasti aja lumayan bagus, maka gue bakalan dijamin berhasil di ilmu sosial.
Gue menjalani awal2 kuliah dengan kepercayaan diri yang besar bahkan mungkin berlebihan untuk bisa sukses di jurusan ini. Hal buruknya adalah gue di sma termasuk siswa yang diatas, sehingga mulai tumbuh rasa sombong dalam diri gue, dan hal ini terbawa sampai gue menjalani dunia perkuliahan. Gue merasa lebih hebat, lebih pintar dari anak2 lainnya. Selain itu gue menyepelekan mata kuliah2 yang diberikan, dan jarang belajar.
Apa yang terjadi selanjutnya? nilai gue tidak lebih bagus daripada anak2 lainnya. Ternyata nilai yang lumayan di bidang ilmu pasti tidak menjamin bahwa kita akan berhasil di bidang ilmu sosial. Di semester2 awal gue selalu menyalahkan keadaan di sekitar gue..entah itu dosen, teman belajar, hingga keberuntungan anak2 lainnya.
Hal ini terjadi sampai sekarang, dan alhamdulillah, sedikit demi sedikit fakta ini membuat mata gue terbuka. Gue sadar bahwa sebenernya kesalahan terbesar ada pada diri gue sendiri.
Dengan tulisan yang sangat panjang dan membosankan ini *Semoga tidak*... gue ingin berbagi nasihat kepada pembaca dan khususnya diri gue sendiri, bahwa kita tidak boleh merasa diri kita paling hebat, karena dibalik suatu kelebihan kita, pasti ada kekurangan yang bagi orang lain itu menjadi kelebihan mereka. Kita tidak boleh merasa paling pintar, karena jika kita sudah merasa diri kita paling pintar, maka pada saat itu lah awal dari proses pembodohan kita. Dengan merasa paling pintar, maka kita akan berhenti belajar, menolak suatu fakta baru, dan dilain pihak orang lain yang merasa dirinya tidak pintar akan lambat laun mendahului kita. Ingatlah bahwa diatas langit masih ada langit... Di dunia ini, tidak ada satu orang mengalahkan orang lain dengan kelebihan yang dimilikinya, yang ada hanyalah dengan kelebihan itu, orang diharapkan bisa saling melengkapi dan membantu.
Jadi, ketika kita mulai merasa paling pintar....should we pretend that this is the end?? NO!! just realize!! that there's sky upon the sky....
KEEP MOVING FORWARD!!! :)
maaf jika ada terdapai berbagai kekurangan, baik dalam segi teknis penulisan, atau pun masalah isi secara keseluruhan.....ayo terus belajar!!!
Here we goooooo.....
Gue adalah seorang mahasiswa semester 4..hampir semester 5 lebih tepatnya, jurusan akuntansi di Universitas Bakrie. Pada awalnya, gue sama sekali g ada bayangan untuk masuk di jurusan ilmu sosial manapun, karena dulu waktu gue sma, ada pandangan kalau anak2 sosial itu adalah anak2 buangan yang sebenernya pengen masuk ke jurusan eksakta namun karena kendala nilai, sehingga mereka secara terpaksa harus masuk ke jurusan sosial...yaa walaupun pasti ada 1-2 anak yang emang pada dasarnya udah pengen masuk ke jurusan itu. Jujur kala itu, gue memandang sebelah mata jurusan sosial. Gue berpendapat kalo ilmu sosial itu adalah ilmu yang semua orang pasti bisa menguasainya dengan sangat mudah, walaupun sampai saat ini gue juga belum tau pasti apakah pendapat gue itu benar atau tidak.
Singkat cerita, akhirnya gue memasuki tahapan akhir masa sma dimana semua siswa kelas 3 berbondong-bondong untuk mencari tempat kuliah yang bakal jadi batu loncatan untuk bisa masuk di dunia kerja kedepannya (yah seperti itulah pendapat umum yang beredar saat ini). Gue saat itu cuman daftar UM UGM, dan yaa...bisa ditebak..jurusan2 yang gue pilih semua adalah yang berkaitan dengan ilmu pasti. Namun, selain itu, gue juga mendaftar di Universitas Bakrie d/h Bakrie School of Management, yang hanya memiliki jurusan akuntansi dan menejemen(pada waktu itu) yang keduanya adalah termasuk ilmu sosial. Gue tertarik mendaftar karena iming2 kuliah gratis sampai lulus.
Akhirnya gue pun diterima di UB, dan pengumuman penerimaan itu tepat sehari sebelum dilaksanakannya UM UGM. Dan karena pertimbangan berbagai hal, khususnya ekonomi keluarga gue yang kurang, maka akhirnya gue memutuskan untuk mengambil beasiswa tersebut dan melupakan UM UGM, sehingga gue g lulus UM.
Sebenernya ada pertimbangan lain mengapa gue mengambil jurusan akuntansi ini. Gue berpikir kalau gue bakalan sukses....yaa minimal bisa lah menjadi diatas rata2 di kampus ini. Gue menyimpulkan bahwa kalau nilai gue di ilmu pasti aja lumayan bagus, maka gue bakalan dijamin berhasil di ilmu sosial.
Gue menjalani awal2 kuliah dengan kepercayaan diri yang besar bahkan mungkin berlebihan untuk bisa sukses di jurusan ini. Hal buruknya adalah gue di sma termasuk siswa yang diatas, sehingga mulai tumbuh rasa sombong dalam diri gue, dan hal ini terbawa sampai gue menjalani dunia perkuliahan. Gue merasa lebih hebat, lebih pintar dari anak2 lainnya. Selain itu gue menyepelekan mata kuliah2 yang diberikan, dan jarang belajar.
Apa yang terjadi selanjutnya? nilai gue tidak lebih bagus daripada anak2 lainnya. Ternyata nilai yang lumayan di bidang ilmu pasti tidak menjamin bahwa kita akan berhasil di bidang ilmu sosial. Di semester2 awal gue selalu menyalahkan keadaan di sekitar gue..entah itu dosen, teman belajar, hingga keberuntungan anak2 lainnya.
Hal ini terjadi sampai sekarang, dan alhamdulillah, sedikit demi sedikit fakta ini membuat mata gue terbuka. Gue sadar bahwa sebenernya kesalahan terbesar ada pada diri gue sendiri.
Dengan tulisan yang sangat panjang dan membosankan ini *Semoga tidak*... gue ingin berbagi nasihat kepada pembaca dan khususnya diri gue sendiri, bahwa kita tidak boleh merasa diri kita paling hebat, karena dibalik suatu kelebihan kita, pasti ada kekurangan yang bagi orang lain itu menjadi kelebihan mereka. Kita tidak boleh merasa paling pintar, karena jika kita sudah merasa diri kita paling pintar, maka pada saat itu lah awal dari proses pembodohan kita. Dengan merasa paling pintar, maka kita akan berhenti belajar, menolak suatu fakta baru, dan dilain pihak orang lain yang merasa dirinya tidak pintar akan lambat laun mendahului kita. Ingatlah bahwa diatas langit masih ada langit... Di dunia ini, tidak ada satu orang mengalahkan orang lain dengan kelebihan yang dimilikinya, yang ada hanyalah dengan kelebihan itu, orang diharapkan bisa saling melengkapi dan membantu.
Jadi, ketika kita mulai merasa paling pintar....should we pretend that this is the end?? NO!! just realize!! that there's sky upon the sky....
KEEP MOVING FORWARD!!! :)
maaf jika ada terdapai berbagai kekurangan, baik dalam segi teknis penulisan, atau pun masalah isi secara keseluruhan.....ayo terus belajar!!!
Senin, 31 Mei 2010
Tugas...tugas...tugas....
Sigh......akhir2 ini, sangat sering gue menghela nafas, mencoba melepaskan penat yang menumpuk jadi satu...dan hal ini lumayan membantu....kontrol nafas ternyata bisa membantu mengkontrol emosi.....
Ya beginilah keadaan di kampus gue, mungkin di kampus yang lain juga....Setiap akhir2 minggu sebelum ujian, pasti ada aja dosen yang minta mahasiswanya mengerjakan tugas yang bobotnya sangat berat. Yang menambah lebih berat lagi adalah semua dosen memberi tugas yang deadline-nya hampir bersamaan.
Dan apa yang gue alami sekarang?? gue dihadepin dengan berbagai macam tugas. Tugas business law kelompok yang harus dipresentasiin besok rabu, tugas individunya dikumpulin rabu minggu depan, tugas pajak dikumpulin besok, tugas business ethics dikumpulin hari kamis. Dan parahnya semua tugas itu belom gue kerjain.
Hari ini gue harus begadang ngerjain tugas kelompok b.law, pajak dan ethics...gue pesimis bisa selesai semua....hahaha...penyesalan emang selalu datang diakhir. Gue selalu menunda2 pekerjaan, dan kalo udah mepet gini bisanya cuman ngeluh.....hahaha.....
Nah, akhirnya udah dapet mood buat lanjut ngerjain tugas lagi...oke gue cukupkan disini...dilanjut dilain waktu......
KEEP MOVING FORWARD!!!
Ya beginilah keadaan di kampus gue, mungkin di kampus yang lain juga....Setiap akhir2 minggu sebelum ujian, pasti ada aja dosen yang minta mahasiswanya mengerjakan tugas yang bobotnya sangat berat. Yang menambah lebih berat lagi adalah semua dosen memberi tugas yang deadline-nya hampir bersamaan.
Dan apa yang gue alami sekarang?? gue dihadepin dengan berbagai macam tugas. Tugas business law kelompok yang harus dipresentasiin besok rabu, tugas individunya dikumpulin rabu minggu depan, tugas pajak dikumpulin besok, tugas business ethics dikumpulin hari kamis. Dan parahnya semua tugas itu belom gue kerjain.
Hari ini gue harus begadang ngerjain tugas kelompok b.law, pajak dan ethics...gue pesimis bisa selesai semua....hahaha...penyesalan emang selalu datang diakhir. Gue selalu menunda2 pekerjaan, dan kalo udah mepet gini bisanya cuman ngeluh.....hahaha.....
Nah, akhirnya udah dapet mood buat lanjut ngerjain tugas lagi...oke gue cukupkan disini...dilanjut dilain waktu......
KEEP MOVING FORWARD!!!
Sabtu, 29 Mei 2010
Semangat kah?
3 am.....*ditemani lagu matchbox 20 yg judulnya 3am juga biar tambah dapet feel-nya...ahahaha g nyambung...
ya..jam segini gue masih bangun. Beberapa orang pasti menanyakan apa yang gue lakuin sepagi ini. Disaat semua orang tidur nyenyak mungkin udah mimpi sampe ke ujung dunia.
Setiap hari gue emang sering masih kebangun jam-jam segini. Biasanya sih g ngelakuin apa2 kecuali browsing2 di internet, liat timeline twitter yang makin sepi, liat news feed fb yang semakin ngebosenin.
Tapi berhubung sekarang udah mau UAS, gue mencoba memanfaatkan kebiasaan gue ini buat ngerangkum beberapa materi kuliah yang emang harus dihapal. Gue g mau kejadian pas UTS kemarin terulang lagi. Gue keteteran menghapal materi yang sebegitu banyak hanya dalam beberapa jam. UTS yang seharusnya bisa dapet lebih bagus, hanya bisa gue manfaatin segitu doang karena banyak materi yang gue belom hapal.
Dan sekarang gue lagi ngerangkum AIS ni.....materi yang mungkin paling banyak dihapal. Gue baru mulai malam ini, dan gue berharap bisa tetep konsisten ngerangkum biar hasil UAS gue maksimal.
Jadi buat seluruh anak Universitas Bakrie......ayo bersaing dengan gue. Kalo perlu kita taruhan siapa yang bakal dapet nilai lebih bagus di UAS berhak dapet traktiran dari yang nilainya lebih jelek......ahahaha....apakah kalian siap??????
KEEP MOVING FORWARD!!!!!
ya..jam segini gue masih bangun. Beberapa orang pasti menanyakan apa yang gue lakuin sepagi ini. Disaat semua orang tidur nyenyak mungkin udah mimpi sampe ke ujung dunia.
Setiap hari gue emang sering masih kebangun jam-jam segini. Biasanya sih g ngelakuin apa2 kecuali browsing2 di internet, liat timeline twitter yang makin sepi, liat news feed fb yang semakin ngebosenin.
Tapi berhubung sekarang udah mau UAS, gue mencoba memanfaatkan kebiasaan gue ini buat ngerangkum beberapa materi kuliah yang emang harus dihapal. Gue g mau kejadian pas UTS kemarin terulang lagi. Gue keteteran menghapal materi yang sebegitu banyak hanya dalam beberapa jam. UTS yang seharusnya bisa dapet lebih bagus, hanya bisa gue manfaatin segitu doang karena banyak materi yang gue belom hapal.
Dan sekarang gue lagi ngerangkum AIS ni.....materi yang mungkin paling banyak dihapal. Gue baru mulai malam ini, dan gue berharap bisa tetep konsisten ngerangkum biar hasil UAS gue maksimal.
Jadi buat seluruh anak Universitas Bakrie......ayo bersaing dengan gue. Kalo perlu kita taruhan siapa yang bakal dapet nilai lebih bagus di UAS berhak dapet traktiran dari yang nilainya lebih jelek......ahahaha....apakah kalian siap??????
KEEP MOVING FORWARD!!!!!
Sabtu, 01 Mei 2010
Suatu Tulisan Tentang Nilai Ujian
UTS udah selesai sekitar seminggu yang lalu.....dan sekarang adalah waktunya anak2 Universitas bakrie untuk siap2 ketawa, nangis, teriak2 histeris, menyumpahi diri sendiri dan bahkan dosen2 mereka karena nilai yang tertulis di portal dan di kertas ujian mereka..
Ada yang bersyukur karena perjuangan belajar keras mereka selama setengah semester akhirnya membuahkan hasil yang maksimal, tapi ada juga yang merasa hasil yang mereka dapet tidak maksimal. Namun, disisi lain, ada juga yang bener2 senang karena belajar SKS (sistim kebut semalam) mereka sukses berat, dan ada juga yang biasa2 aja liat nilai jelek karena memang mereka merasa sudah merasa ikhlas (tentunya ikhlas karena memang mereka g belajar....hehehe...).
Nah ada hal menarik dari nilai2 hasil ujian ini. Hal ini berkaitan dengan kebijakan dosen dalam penilaian ujian. Ada dosen yang sangat baik dalam menilai hasil ujian mahasiswanya, sehingga hampir seluruh nilai mahasiswanya bagus2. Di lain pihak, ada juga dosen yang sangat pelit dalam memberikan nilai kepada mahasiswanya yang pada akhirnya sering kali mendapat sumpah serapah dari para mahasiswanya (Makanya pak/bu jangan suka ngasih nilai jelek...ntar hidupnya g tenang lho didoain yg jelek2...hehehe). Tapi ada juga yang ngasih nilai bener2 objektif, hasil nilai benar2 mencerminkan apa yang ditulis mahasiswa di lembar ujian tersebut, tanpa ada pengaruh dalam penilaian....
Perbedaan dalam penilaian ini seringkali menyebabkan kecemburuan antara mahasiswa kelas yang diajar dosen yang satu dengan yang lainnya. Bahkan terjadi pula cara penilaian yang berbeda dari kelas-kelas yang diajar dosen yang sama!! Nah gimana tu?? Sebagai contoh, di kelas A, dosen memberikan nilai yang sangat bagus untuk mahasiswanya, tapi di kelas B, dosen yang sama memberikan nilai yang naudzubillah jeleknya ke mahasiswanya, meskipun sebenernya jawaban di kertas ujian anak2 kelas B itu lebih bagus daripada kelas A. Hal ini menurut gue bisa terjadi karena dosen yang memberi nilai sangat subjektif, jika kelas yang diajarnya nurut2, baik2...maka akan diberi nilai yang baik, tapi kalau kelas yang diajarnya bandel2, ribut melulu maka bakal dikasih nilai jelek. Tapi gue menemukan sebab lain yang bikin gue garuk2 kepala....gini ceritanya:
Di semester 2, ada satu mata kuliah yang dosennya mengajar 2 kelas, gue termasuk mahasiswa di salah satu kelasnya. Pada saat liat hasil ujian, kita tercengang karena nilai yang muncul bener2 bikin mulut orang berbusa karena saking jeleknya nilai yang keluar (apa hub nilai jelek ma mulut berbusa ya?). Namun pada akhirnya kita sedikit mendapat angin segar karena kata si dosen nilai ditambah beberapa poin...kita jadi bisa sedikit senyum tu... Tapi senyum itu g bertahan lama, karena setelah tanya ke kelas lain yang diajar dosen itu, ternyata penambahan nilai mereka jauh lebih banyak dari kelas kami. bayangkan di kelas kami nilai 60an palin banter cuman bisa jadi 70an, dan dikelas itu nilai 60an bisa jadi 90!!!!(ini beneran terjadi kawan2!!!). Dan setelah kita protes dan tanya ke dosennya, dia jawab kalo cara penambahan nilai tersebut didasar pada perhitungan statistik yang gue g ngerti dan g dapet korelasi antara nilai dan hitungan tersebut. Tapi intinya, di kelas gue emang persaingan antara mahasiswa lebih ketat daripada kelas yang lain, rentang nilai di kelas gue sangat ketat, sedang rentang nilai tertinggi dan kedua di kelas lain itu sangat jauh, jadi menurut dosen itu, orang yang mendapat nilai tertinggi di kelas lain itu pasti memiliki usaha yang lebih keras jadi layak mendapat tambahan nilai yang lebih banyak.......
Nah, adilkah hal ini??.....karena dalam satu angkatan, terbagi beberapa kelas, yang untuk satu mata kuliah pasti dosen yang mengajar akan berbeda, sehingga tentu saja nilai dari tiap kelas tidak akan bisa dibandingkan. Lalu, bagaimana dalam hal evaluasi ipk? tentunya ipk antar mahasiswa juga g bisa dibandingin kan? sebagai informasi, di kampus gue ada evaluasi untuk menentukan beberapa persen mahasiswa terbaik yang selanjutnya berhak untuk mendapatkan sejumlah reward dari kampus.
Untuk sampai saat ini, gue masih sedikit beruntung, karena sejak semester 1 gue jarang dapet dosen2 yang pelit nilai. Kalau pun gue dapet nilai jelek, itu memang karena gue kurang keras dalam belajar sehingga gue masih bisa ikhlas nerima hasil nilai jelek tersebut. Dan alhamdulillah, nilai UTS yang sebagian udah keluar juga lumayan bisa melegakan hati dan semoga nilai2 yang belum keluar juga bisa ikut turut serta melukis sebuah senyum manis di bibir gue...(huueek!!!)
Jadi begini lah realitanya...hasil nilai atau ipk dari mahasiswa dalam satu universitas aja sebenarnya g bisa dibandingkan, apalagi dengan universitas lain?
Lalu, apa kesimpulan dari tulisan ini?? Gue juga g ngerti....hahahahha.....dasar setres!!
Nah ada hal menarik dari nilai2 hasil ujian ini. Hal ini berkaitan dengan kebijakan dosen dalam penilaian ujian. Ada dosen yang sangat baik dalam menilai hasil ujian mahasiswanya, sehingga hampir seluruh nilai mahasiswanya bagus2. Di lain pihak, ada juga dosen yang sangat pelit dalam memberikan nilai kepada mahasiswanya yang pada akhirnya sering kali mendapat sumpah serapah dari para mahasiswanya (Makanya pak/bu jangan suka ngasih nilai jelek...ntar hidupnya g tenang lho didoain yg jelek2...hehehe). Tapi ada juga yang ngasih nilai bener2 objektif, hasil nilai benar2 mencerminkan apa yang ditulis mahasiswa di lembar ujian tersebut, tanpa ada pengaruh dalam penilaian....
Perbedaan dalam penilaian ini seringkali menyebabkan kecemburuan antara mahasiswa kelas yang diajar dosen yang satu dengan yang lainnya. Bahkan terjadi pula cara penilaian yang berbeda dari kelas-kelas yang diajar dosen yang sama!! Nah gimana tu?? Sebagai contoh, di kelas A, dosen memberikan nilai yang sangat bagus untuk mahasiswanya, tapi di kelas B, dosen yang sama memberikan nilai yang naudzubillah jeleknya ke mahasiswanya, meskipun sebenernya jawaban di kertas ujian anak2 kelas B itu lebih bagus daripada kelas A. Hal ini menurut gue bisa terjadi karena dosen yang memberi nilai sangat subjektif, jika kelas yang diajarnya nurut2, baik2...maka akan diberi nilai yang baik, tapi kalau kelas yang diajarnya bandel2, ribut melulu maka bakal dikasih nilai jelek. Tapi gue menemukan sebab lain yang bikin gue garuk2 kepala....gini ceritanya:
Di semester 2, ada satu mata kuliah yang dosennya mengajar 2 kelas, gue termasuk mahasiswa di salah satu kelasnya. Pada saat liat hasil ujian, kita tercengang karena nilai yang muncul bener2 bikin mulut orang berbusa karena saking jeleknya nilai yang keluar (apa hub nilai jelek ma mulut berbusa ya?). Namun pada akhirnya kita sedikit mendapat angin segar karena kata si dosen nilai ditambah beberapa poin...kita jadi bisa sedikit senyum tu... Tapi senyum itu g bertahan lama, karena setelah tanya ke kelas lain yang diajar dosen itu, ternyata penambahan nilai mereka jauh lebih banyak dari kelas kami. bayangkan di kelas kami nilai 60an palin banter cuman bisa jadi 70an, dan dikelas itu nilai 60an bisa jadi 90!!!!(ini beneran terjadi kawan2!!!). Dan setelah kita protes dan tanya ke dosennya, dia jawab kalo cara penambahan nilai tersebut didasar pada perhitungan statistik yang gue g ngerti dan g dapet korelasi antara nilai dan hitungan tersebut. Tapi intinya, di kelas gue emang persaingan antara mahasiswa lebih ketat daripada kelas yang lain, rentang nilai di kelas gue sangat ketat, sedang rentang nilai tertinggi dan kedua di kelas lain itu sangat jauh, jadi menurut dosen itu, orang yang mendapat nilai tertinggi di kelas lain itu pasti memiliki usaha yang lebih keras jadi layak mendapat tambahan nilai yang lebih banyak.......
Nah, adilkah hal ini??.....karena dalam satu angkatan, terbagi beberapa kelas, yang untuk satu mata kuliah pasti dosen yang mengajar akan berbeda, sehingga tentu saja nilai dari tiap kelas tidak akan bisa dibandingkan. Lalu, bagaimana dalam hal evaluasi ipk? tentunya ipk antar mahasiswa juga g bisa dibandingin kan? sebagai informasi, di kampus gue ada evaluasi untuk menentukan beberapa persen mahasiswa terbaik yang selanjutnya berhak untuk mendapatkan sejumlah reward dari kampus.
Untuk sampai saat ini, gue masih sedikit beruntung, karena sejak semester 1 gue jarang dapet dosen2 yang pelit nilai. Kalau pun gue dapet nilai jelek, itu memang karena gue kurang keras dalam belajar sehingga gue masih bisa ikhlas nerima hasil nilai jelek tersebut. Dan alhamdulillah, nilai UTS yang sebagian udah keluar juga lumayan bisa melegakan hati dan semoga nilai2 yang belum keluar juga bisa ikut turut serta melukis sebuah senyum manis di bibir gue...(huueek!!!)
Jadi begini lah realitanya...hasil nilai atau ipk dari mahasiswa dalam satu universitas aja sebenarnya g bisa dibandingkan, apalagi dengan universitas lain?
Lalu, apa kesimpulan dari tulisan ini?? Gue juga g ngerti....hahahahha.....dasar setres!!
Langganan:
Postingan (Atom)