Selasa, 13 Juli 2010

Buku Kenangan

hmm...pengen nulis lagi...

Kemaren (atau lusa ya?)....secara tidak sengaja saya melihat buku "Meremas Sampah Menjadi Emas" di deretan buku2 koleksi saya..buku yang dibikin secara keroyokan orang2 FLP (Forum Lingkar Pena), dengan beberapa anggota gerombolannya adalah Ekky Malaky, Afifah Afra, NasSirun PurwOkartun, dkk. Buku ini memaksa saya untuk berpikir, membayangkan jauh kembali ke suasana 1 tahun yang lalu...



Apa yang terjadi satu tahun yang lalu? dan mengapa buku itu menjadi buku yang bisa begitu berkesan bagi saya?


Here's the story....


Ibu saya divonis menderita kanker serviks beberapa tahun yang lalu, saat saya masih kelas 3 SMA.Sejak saat itu ibu menjalani berbagai pengobatan untuk menyembuhkan penyakitnya, mulai dari melakukan operasi pengangkatan rahim, hingga kemoterapi dan penyedotan cairan secara berulang2 yang terdapat di paru-parunya karena ternyata sel kankernya sudah menyebar.

Pengobatan tersebut rutin dilakukan tentunya bertujuan untuk menyembuhkan penyakit ibu...tapi pengobatan itu tidaklah sama seperti kalo kita minum obat batuk yang efek sampingnya paling hanya ngantuk, paling banter mual2...saya melihat dengan mata sendiri bagaimana ibu merasa sangat menderita dengan cara pengobatan2 tersebut, setiap menjalani pengobatan, minimal erangan hingga teriakan kesakitan keluar dari mulut ibu yang lemah.

Beberapa tahun berjalan, hingga akhirnya ibu merasa lelah dengan berbagai teknik pengobatan yang tidak kunjung memberikan efek yang berarti. Beliau, dalam dirinya, mulai tidak percaya dengan khasiat pengobatan2 itu. Walaupun pengobatan terus berjalan, tapi ibu menjalaninya dengan setengah hati, selalu mengeluh dan malas2an menjalaninya. Akhirnya sekitar setahun yang lalu, ibu mulai terlihat menyerah terhadap penyakit yang dideritanya.

Kembali ke buku tadi. Buku 208 halaman + 2 lembar cover tersebut, adalah buku yang diberikan oleh teman kakak saya untuk ibu. Isi buku tersebut adalah motivasi untuk tetap berjuang kala kita menghadapi berbagai masalah seperti pendidikan, kesehatan, dll. Tentu saja tujuan dari dia adalah supaya ibu termotivasi dan tidak kalah dengan penyakitnya..., saya sempat bilang ke ibu bahwa ibu seharusnya baca buku itu agar tetap semangat. Ada beberapa kalimat di halaman depan buku itu:

"Allah hy akan berikan yang terbaik...
Innallaha ma'anna...
Luv U my Mom.
Semoga cepat sembuh"

Tapi Allah memang Maha Berkehendak....sekitar setahun yang lalu ibu dipanggil oleh Allah (semoga dengan penderitan itu, dosa-dosa ibu diampuni oleh Allah...Amiin). Ibu meninggal tanpa pernah membaca buku itu.

Saya sengaja membawa buku itu sebagai salah satu kenangan yang bisa mengingatkanku kepada ibu. Saya membawa buku ini tanpa sepengetahuan kakakku..(hehehe...).

Saya ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada teman kakak saya itu. Walaupun buku ini belum sempat dibaca oleh ibu, namun buku ini telah memberikan manfaat kepada saya (sebagai seorang putra dari ibu) untuk kembali bangkit jika saya menghadapi suatu masalah, khususnya saat saya kehilangan seorang ibu. Dengan buku ini, saya sadar bahwa saya harus bangkit, agar ibu bisa bangga memiliki anak yang pantang menyerah dalam menghadapi masalah hidup.

Bagi teman2 yang membaca tulisan ini, saya sangat merekomendasikan agar kalian membaca buku ini. Ambil hikmah dari berbagai kisah2 menarik yang tentunya akan memberikan motivasi agar kita terus berjuang menghadapi masalah hidup.

Masalah yang menghambat kehidupan kita, harusnya kita hadapi dengan semangat pantang menyerah. Allah tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hambaNya. Beliau memberikan masalah sebagai petunjuk, pengingat, atau hukuman bagi kita. Petunjuk jika kita belum mengetahui. Pengingat jika kita lupa terhadap tugas kita sebagai manusia. Hukuman jika kita melanggar ketentuan2 Allah. Masalah akan membuat kita menjadi lebih kuat, lebih sabar, lebih beriman dan bertakwa kepada Allah. Jangan cepat menyerah, karena mungkin saat kita menyerah, sebenarnya kita hanya tinggal selangkah lagi menuju jawaban masalah kita.

Saya ingin berterima kasih kepada teman kakak saya, yang saya tidak tahu namanya. Semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan keselamatan kepadanya....
Dan aku berdoa untuk ibu, semoga Allah mengampuni segala kesalahan ibu, dan menggabungkannya bersama orang-orang yang beriman di surga...Amin...

Dan sekarang untuk diri saya sendiri.....: KEEP MOVING FORWARD!!!
blogger-emoticon.blogspot.com

Senin, 05 Juli 2010

Di atas Langit Masih ada Langit

hmmmm.....lagi pengen nulis tentang kuliah dan pemikiran gue....semoga nyambung dengan judulnya...hehehe...

Here we goooooo.....

Gue adalah seorang mahasiswa semester 4..
hampir semester 5 lebih tepatnya, jurusan akuntansi di Universitas Bakrie. Pada awalnya, gue sama sekali g ada bayangan untuk masuk di jurusan ilmu sosial manapun, karena dulu waktu gue sma, ada pandangan kalau anak2 sosial itu adalah anak2 buangan yang sebenernya pengen masuk ke jurusan eksakta namun karena kendala nilai, sehingga mereka secara terpaksa harus masuk ke jurusan sosial...yaa walaupun pasti ada 1-2 anak yang emang pada dasarnya udah pengen masuk ke jurusan itu. Jujur kala itu, gue memandang sebelah mata jurusan sosial. Gue berpendapat kalo ilmu sosial itu adalah ilmu yang semua orang pasti bisa menguasainya dengan sangat mudah, walaupun sampai saat ini gue juga belum tau pasti apakah pendapat gue itu benar atau tidak.

Singkat cerita, akhirnya gue memasuki tahapan akhir masa sma dimana semua siswa kelas 3 berbondong-bondong untuk mencari tempat kuliah yang bakal jadi batu loncatan untuk bisa masuk di dunia kerja kedepannya (yah seperti itulah pendapat umum yang beredar saat ini). Gue saat itu cuman daftar UM UGM, dan yaa...bisa ditebak..jurusan2 yang gue pilih semua adalah yang berkaitan dengan ilmu pasti. Namun, selain itu, gue juga mendaftar di Universitas Bakrie d/h Bakrie School of Management, yang hanya memiliki jurusan akuntansi dan menejemen(pada waktu itu) yang keduanya adalah termasuk ilmu sosial. Gue tertarik mendaftar karena iming2 kuliah gratis sampai lulus.

Akhirnya gue pun diterima di UB, dan pengumuman penerimaan itu tepat sehari sebelum dilaksanakannya UM UGM. Dan karena pertimbangan berbagai hal, khususnya ekonomi keluarga gue yang kurang, maka akhirnya gue memutuskan untuk mengambil beasiswa tersebut dan melupakan UM UGM, sehingga gue g lulus UM.

Sebenernya ada pertimbangan lain mengapa gue mengambil jurusan akuntansi ini. Gue berpikir kalau gue bakalan sukses....yaa minimal bisa lah menjadi diatas rata2 di kampus ini. Gue menyimpulkan bahwa kalau nilai gue di ilmu pasti aja lumayan bagus, maka gue bakalan dijamin berhasil di ilmu sosial.

Gue menjalani awal2 kuliah dengan kepercayaan diri yang besar bahkan mungkin berlebihan untuk bisa sukses di jurusan ini. Hal buruknya adalah gue di sma termasuk siswa yang diatas, sehingga mulai tumbuh rasa sombong dalam diri gue, dan hal ini terbawa sampai gue menjalani dunia perkuliahan. Gue merasa lebih hebat, lebih pintar dari anak2 lainnya. Selain itu gue menyepelekan mata kuliah2 yang diberikan, dan jarang belajar.

Apa yang terjadi selanjutnya? nilai gue tidak lebih bagus daripada anak2 lainnya. Ternyata nilai yang lumayan di bidang ilmu pasti tidak menjamin bahwa kita akan berhasil di bidang ilmu sosial. Di semester2 awal gue selalu menyalahkan keadaan di sekitar gue..entah itu dosen, teman belajar, hingga keberuntungan anak2 lainnya.

Hal ini terjadi sampai sekarang, dan alhamdulillah, sedikit demi sedikit fakta ini membuat mata gue terbuka. Gue sadar bahwa sebenernya kesalahan terbesar ada pada diri gue sendiri.

Dengan tulisan yang sangat panjang dan membosankan ini
*Semoga tidak*... gue ingin berbagi nasihat kepada pembaca dan khususnya diri gue sendiri, bahwa kita tidak boleh merasa diri kita paling hebat, karena dibalik suatu kelebihan kita, pasti ada kekurangan yang bagi orang lain itu menjadi kelebihan mereka. Kita tidak boleh merasa paling pintar, karena jika kita sudah merasa diri kita paling pintar, maka pada saat itu lah awal dari proses pembodohan kita. Dengan merasa paling pintar, maka kita akan berhenti belajar, menolak suatu fakta baru, dan dilain pihak orang lain yang merasa dirinya tidak pintar akan lambat laun mendahului kita. Ingatlah bahwa diatas langit masih ada langit... Di dunia ini, tidak ada satu orang mengalahkan orang lain dengan kelebihan yang dimilikinya, yang ada hanyalah dengan kelebihan itu, orang diharapkan bisa saling melengkapi dan membantu.

Jadi, ketika kita mulai merasa paling pintar....should we pretend that this is the end?? NO!! just realize!! that there's sky upon the sky....


KEEP MOVING FORWARD!!! :)
maaf jika ada terdapai berbagai kekurangan, baik dalam segi teknis penulisan, atau pun masalah isi secara keseluruhan.....ayo terus belajar!!!

Minggu, 20 Juni 2010

My SuperFather

hmmm......hari ini temen2 gue rame di twitter ngomongin tentang Ayah mereka. Gue sempet bingung kenapa mereka ujug2 ngomongin itu, dan setelah iseng2 cari informasi akhirnya gue baru tau kalo ternyata hari ini adalah Hari Ayah. Sebenernya gue dari dulu belom tau kalo Hari Ayah itu ada, setau gue yang ada cuman Hari Ibu. Emang kalo diliat2 sih pengorbanan seorang Ibu emang sangat berat sehingga emang seharusnya "dibuatkan" sesuatu yang spesial untuk menghargai perjuangan kaum Ibu itu. Tapi apakah dengan begitu pengorbanan para Ayah kalah dengan pengorbanan para Ibu??


Keadaan yang umum di Indonesia, seorang Ayah pastilah sosok yang sangat berpengaruh dalam keluarga. Ayah adalah tulang punggung dari sebuah keluarga. Dia bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan segala hal tentang keluarganya. Sosok Ayah merupakan Nahkoda dari bahtera rumah tangga (uhuk...uhuk...bahasanya...). Dia yang menentukan hampir semua keputusan dalam rumah tangga. Dalam Islam, Ayah adalah seorang Imam dari keluarganya, bukan hanya Imam dalam waktu sholat, tetapi juga sebagai Imam dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sebenarnya masih banyak lagi hal2 yang luar biasa jika kita membahas tentang peran Ayah dalam keluarga, tapi karena emang gue masih belom bisa nulis lancar dan pengetahuan gue yang masih dangkal, jadinya ya cuman sebatas ini gue bisa mengungkapkannya.


Sekarang gue pengen cerita tentang pahlawan keluarga gue. Ayah gue, atau yang gue panggil dengan sebutan Bapak, adalah seorang yang menurut gue paling hebat (ya...sama seperti pemikiran orang lain tentang Ayah mereka masing2). Bapak gue bernama Sulistyono, yang sering disebut dengan nama "Cuk" oleh keluarga. Gue g tau kenapa bisa dipanggil dengan sebutan itu, walau gue penasaran, gue g pernah coba tanya itu ke bapak.


Bapak adalah orang yang sangat berpengaruh dalam keluarga kami. Beliau selalu menjadi penentu keputusan terakhir tentang apa yang ada di keluarga kami, tentang mau beli perabotan apa, mau jalan2 kemana pas liburan sampe mau disekolahkan dimana anak2 beliau. Sebagai satu-satunya pencari nafkah di keluarga kami, karena ibu hanya menjadi ibu rumah tangga, beliau menunjukkan bagaimana kerja keras beliau untuk menghidupi keluarga kami. Sebagai seorang PNS setiap hari beliau pulang-pergi Klaten-Sleman yang jaraknya mungkin lebihdari 30km untuk bekerja. Beliau menjalani ini selama hampir 17 tahun, karena keluarga kami menetap di Klaten sesaat sebelum gue lahir, dan bapak pensiun kira2 dua tahun yang lalu.


Dalam pandangan gue, bapak adalah sosok yang tidak keras, tapi juga tidak lembut. Entah kenapa, gue selalu merasakan ada jarak antara Bapak dengan anak2nya. Kami selalu takut untuk menyampaikan keinginan ke beliau. Kami selalu menjadikan ibu sebagai "tumbal" kemanjaan kami. Tapi gue tidak mempermasalahkan hal itu, karena menurut gue, jarak Ayah dan anak itu perlu dibangun agar terlihat kewibawaan seorang Ayah dan selain itu juga supaya anak2nya tidak kurang ajar (hehehe...).


Dibalik sosok yang setengah keras itu, bapak adalah sosok yang sangat bertanggung jawab, sabar dan tabah dalam keluarga kami. Hal ini bisa gue lihat saat beliau, tanpa kenal lelah mengurusi segala macam hal ketika ibu menjalani pengobatan karena penyakit kanker yang dideritanya. Beliau sangat sabar menemani ibu menjalani berbagai macam proses pengobatan, karena kondisi ibu yang memang sangat lemah. Setiap saat, beliau bolak-balik Klaten-Jogja untuk mengantar ibu melakukan Kemoterapi dan mengurusi segala macam administrasi, khususnya biaya yang tentunya tidak sedikit. Saat kondisi ibu kritis, bapak dengan sabar menemaninya. Beliau mengurusi segala macam keperluan ibu. Beliau dengan sabar mengingatkan ibu untuk secara rutin minum segala macam obat yang bahkan gue kasian melihat ibu sangat tersiksa dengan obat itu. Beliau memandikan ibu, menggendong kemanapun ibu mau jika ibu jika bosan di kamar, memberi semangat ketika ibu mengeluh tentang kesakitan yang dideritanya, berpikir bagaimana cara mencari dana pengobatan ibu, hingga tentunya memikirkan biaya pendidikan anak2nya (dan inilah alasan sebenarnya mengapa gue memutuskan mengambil beasiswa di Universitas Bakrie).


Bapak adalah sosok yang sangat tegar. Dia selalu berusaha menutup2i segala keterbatasan keluarga kami, hanya karena beliau tidak mau kami khawatir. Beliau selalu berusaha memenuhi keinginan kami, khususnya tentang pendidikan,walau sebenarnya keluarga kami sedang dalam keadaan tidak ada. Beliau tidak mempermasalahkan apakah anaknya memilih sekolah di tempat yang mahal atau tidak. Dan selama hidup gue, hanya sekali gue menyaksikan bapak benar2 merasa tidak berdaya, yaitu saat ibu di panggil oleh Allah. Sosok tegap dan tinggi yang biasanya bisa menutupi usia beliau, saat itu seperti tidak berdaya, beliau kelihatan sangat capek dan sangat kehilangan.

Saat ini, gue bener2 pengen membuat beliau bangga, gue ingin membuat beliau tidak merasa kesepian, istirahat memikirkan anak2nya, karena memang tinggal gue tanggungan beliau. Gue yakin kakak2 gue pun berpikiran sama, mereka pasti sedang berusaha untuk membahagiakan bapak, membalas kerja keras beliau yang telah membesarkan kami, 4 anak yang sangat bandel, walaupun kami tau tidak ada usaha kami yang bisa menamai pengorbanan beliau.

Dan sekarang, gue pengen membabat habis UAS yang bakal gue hadepin 2 minggu ini, kemudian pulang ke Klaten dengan membawa berita yang bisa membuat bapak bangga dengan gue. Jadi, walau gue udah nyia2in minggu tenang gue kemarin, gue tetep g akan berhenti berusaha, demi kebahagiaan bapak, demi segaris senyum di wajah beliau......

Ahhhh....gue bingung mau nulis apa lagi, sebenernya masih banyak lagi yang gue pengen tulis,...gue pengen mempersembahkan tulisan yang paling bagus, tapi yah karena masih amatir ya jadinya kaya gini.

Yah begitulah cerita gue yang berantakan disana-sini, tapi setidaknya dengan nulis ini gue juga secara tidak langsung menyadarkan diri sendiri untuk memurnikan niat sebenernya kenapa gue ke Jakarta, kuliah di UB ini. Semoga apa yang gue kerjakan bisa berarti bagi beliau......

Bapak, kau adalah sosok yang sangat berarti buatku, aku ingin mencontohmu, mencontoh kesabaran, kebijasanaan, dan ketegaranmu, serta bagaimana engkau mencintai ibu dengan setulus hatimu......semoga engkau panjang umur, sehingga bisa menyaksikan anak2mu ini menjadi orang2 hebat yang bisa membuatmu bangga dan tidak menyesal telah membesarkan kami.....

Happy Father's Day....My SuperFather.......

Minggu, 13 Juni 2010

Uneg-Uneg

wah....g kerasa sekarang udah masuk minggu tenang lagi....
ya...seminggu lagi gue udah harus kembali bertempur dengan soal-soal UAS yang materinya sama sekali belum gue kuasai..

Setelah UTS gue jarang hingga sama sekali g merhatiin dosen yang ngejelasin materi kuliah di kelas. Ya begitulah, niat gue buat lebih serius setelah UTS karena nilai UTS gue yang kurang memuaskan memang cuman hanya sekedar niat. Gue masih saja berkutat dengan berbagai hal yang sebenernya g penting.

Setiap hari gue cuman seneng-seneng tanpa peduli dengan kuliah. Gue berangkat kuliah cuman sekedar ngisi daftar kehadiran yang harus 80% kehadirannya. Setelah itu, gue cuman ngobrol sana-sini g jelas, maen PES, dan ikut kegiatan yang bener-bener menyita waktu.

Soal gue sering mengeluh waktu belajar gue berkurang karena banyak sekali ikut kegiatan, sebenernya cuman alasan buat males-malesan. Gue cuman nyalahin hal-hal diluar gue, bukannya nyalahin diri sendiri yang males.

Setelah tinggal beberapa hari menjelang ujian gue baru sadar kalo udah buang-buang waktu. Gue sering beralasan orang lain punya waktu lebih banyak buat belajar. Sering menyalahkan keadaan gue yang serba susah (menurut versi gue). Tapi, gue akhir-akhir ini mulai serasa ditonjok, dibuka mata gue setelah baca blog salah satu temen gue.

Temen gue itu punya prestasi yang sangat luar biasa di kampus, dia keliatan g terlalu serius juga pas ngedengerin dosen nerangin, tapi nilai yang dia dapet luar biasa. Gue sempet berpikir dia pasti belajar kalo g ada kuliah soalnya punya waktu yang banyak. Selain itu gue sering membandingkan kalo kenyamanan belajar yang dia dapet lebih dari gue. Gue pernah ke kontrakan dia, tempat yang nyaman buat belajar, blablablabla...pokoknya gue iri dengan kenyamanan dia buat belajar....

Tapi setelah gue baca blog dia, ternyata gue g banyak berbeda dengan dia, mungkin dalam beberapa kondisi gue punya yang g dia punya. Dia ternyata memiliki kegiatan yang juga sangat banyak, kondisi perekonomian yang pas2an juga, salah satu orangtuanya juga udah dipanggil terlebih dahulu, dll yang sebenernya hampir sama dengan gue. Lalu apa yang menyebabkan dia bisa lebih berhasil bahkan jauh lebih berhasil daripada gue?

Setelah itu gue baru sadar kalo gue bener2 payah. Setiap hari gue g pernah mikir tentang kuliah. Setiap kuliah pagi pasti telat, di kelas tisur karena malamnya begadang, abis kelas maen, pulang dari kampus bukannya belajar malah onlen, nonton film, dll yang akhirnya bikin gue tidur pagi, dan sama sekali nyentuh buku materi kuliah. Tugas-tugas yang sebenernya buat masa kita belajar pun g pernah gue kerjain sendiri. Gue selalu pinjem jawaban temen buat gue contek. Gue selalu menunda-nunda pekerjaan yang akhirnya menumpuk semua hingga gue bener2 kelelahan pas deadline sedangkan temen2 gue bisa tidur nyenyak karena udah selesai dari dulu.

Dan sekarang pun begitu, tau udah mepet ujian gue malah tetep onlen dan sekarang malah nulis blog ini......hahahaha...
Oke setelah selesai nulis blog ini...gue harus mulai belajar!!!!!!!!


Keep Moving Forward!!!

Senin, 31 Mei 2010

Tugas...tugas...tugas....

Sigh......akhir2 ini, sangat sering gue menghela nafas, mencoba melepaskan penat yang menumpuk jadi satu...dan hal ini lumayan membantu....kontrol nafas ternyata bisa membantu mengkontrol emosi.....

Ya beginilah keadaan di kampus gue, mungkin di kampus yang lain juga....Setiap akhir2 minggu sebelum ujian, pasti ada aja dosen yang minta mahasiswanya mengerjakan tugas yang bobotnya sangat berat. Yang menambah lebih berat lagi adalah semua dosen memberi tugas yang deadline-nya hampir bersamaan.

Dan apa yang gue alami sekarang?? gue dihadepin dengan berbagai macam tugas. Tugas business law kelompok yang harus dipresentasiin besok rabu, tugas individunya dikumpulin rabu minggu depan, tugas pajak dikumpulin besok, tugas business ethics dikumpulin hari kamis. Dan parahnya semua tugas itu belom gue kerjain.

Hari ini gue harus begadang ngerjain tugas kelompok b.law, pajak dan ethics...gue pesimis bisa selesai semua....hahaha...penyesalan emang selalu datang diakhir. Gue selalu menunda2 pekerjaan, dan kalo udah mepet gini bisanya cuman ngeluh.....hahaha.....

Nah, akhirnya udah dapet mood buat lanjut ngerjain tugas lagi...oke gue cukupkan disini...dilanjut dilain waktu......

KEEP MOVING FORWARD!!!

Sabtu, 29 Mei 2010

Semangat kah?

3 am.....*ditemani lagu matchbox 20 yg judulnya 3am juga biar tambah dapet feel-nya...ahahaha g nyambung...

ya..jam segini gue masih bangun. Beberapa orang pasti menanyakan apa yang gue lakuin sepagi ini. Disaat semua orang tidur nyenyak mungkin udah mimpi sampe ke ujung dunia.

Setiap hari gue emang sering masih kebangun jam-jam segini. Biasanya sih g ngelakuin apa2 kecuali browsing2 di internet, liat timeline twitter yang makin sepi, liat news feed fb yang semakin ngebosenin.

Tapi berhubung sekarang udah mau UAS, gue mencoba memanfaatkan kebiasaan gue ini buat ngerangkum beberapa materi kuliah yang emang harus dihapal. Gue g mau kejadian pas UTS kemarin terulang lagi. Gue keteteran menghapal materi yang sebegitu banyak hanya dalam beberapa jam. UTS yang seharusnya bisa dapet lebih bagus, hanya bisa gue manfaatin segitu doang karena banyak materi yang gue belom hapal.

Dan sekarang gue lagi ngerangkum AIS ni.....materi yang mungkin paling banyak dihapal. Gue baru mulai malam ini, dan gue berharap bisa tetep konsisten ngerangkum biar hasil UAS gue maksimal.

Jadi buat seluruh anak Universitas Bakrie......ayo bersaing dengan gue. Kalo perlu kita taruhan siapa yang bakal dapet nilai lebih bagus di UAS berhak dapet traktiran dari yang nilainya lebih jelek......ahahaha....apakah kalian siap??????

KEEP MOVING FORWARD!!!!!

Sabtu, 01 Mei 2010

Suatu Tulisan Tentang Nilai Ujian

UTS udah selesai sekitar seminggu yang lalu.....dan sekarang adalah waktunya anak2 Universitas bakrie untuk siap2 ketawa, nangis, teriak2 histeris, menyumpahi diri sendiri dan bahkan dosen2 mereka karena nilai yang tertulis di portal dan di kertas ujian mereka..

Ada yang bersyukur karena perjuangan belajar keras mereka selama setengah semester akhirnya membuahkan hasil yang maksimal, tapi ada juga yang merasa hasil yang mereka dapet tidak maksimal. Namun, disisi lain, ada juga yang bener2 senang karena belajar SKS (sistim kebut semalam) mereka sukses berat, dan ada juga yang biasa2 aja liat nilai jelek karena memang mereka merasa sudah merasa ikhlas (tentunya ikhlas karena memang mereka g belajar....hehehe...).

Nah ada hal menarik dari nilai2 hasil ujian ini. Hal ini berkaitan dengan kebijakan dosen dalam penilaian ujian. Ada dosen yang sangat baik dalam menilai hasil ujian mahasiswanya, sehingga hampir seluruh nilai mahasiswanya bagus2. Di lain pihak, ada juga dosen yang sangat pelit dalam memberikan nilai kepada mahasiswanya yang pada akhirnya sering kali mendapat sumpah serapah dari para mahasiswanya (Makanya pak/bu jangan suka ngasih nilai jelek...ntar hidupnya g tenang lho didoain yg jelek2...hehehe). Tapi ada juga yang ngasih nilai bener2 objektif, hasil nilai benar2 mencerminkan apa yang ditulis mahasiswa di lembar ujian tersebut, tanpa ada pengaruh dalam penilaian....

Perbedaan dalam penilaian ini seringkali menyebabkan kecemburuan antara mahasiswa kelas yang diajar dosen yang satu dengan yang lainnya. Bahkan terjadi pula cara penilaian yang berbeda dari kelas-kelas yang diajar dosen yang sama!! Nah gimana tu?? Sebagai contoh, di kelas A, dosen memberikan nilai yang sangat bagus untuk mahasiswanya, tapi di kelas B, dosen yang sama memberikan nilai yang naudzubillah jeleknya ke mahasiswanya, meskipun sebenernya jawaban di kertas ujian anak2 kelas B itu lebih bagus daripada kelas A. Hal ini menurut gue bisa terjadi karena dosen yang memberi nilai sangat subjektif, jika kelas yang diajarnya nurut2, baik2...maka akan diberi nilai yang baik, tapi kalau kelas yang diajarnya bandel2, ribut melulu maka bakal dikasih nilai jelek. Tapi gue menemukan sebab lain yang bikin gue garuk2 kepala....gini ceritanya:

Di semester 2, ada satu mata kuliah yang dosennya mengajar 2 kelas, gue termasuk mahasiswa di salah satu kelasnya. Pada saat liat hasil ujian, kita tercengang karena nilai yang muncul bener2 bikin mulut orang berbusa karena saking jeleknya nilai yang keluar (apa hub nilai jelek ma mulut berbusa ya?). Namun pada akhirnya kita sedikit mendapat angin segar karena kata si dosen nilai ditambah beberapa poin...kita jadi bisa sedikit senyum tu... Tapi senyum itu g bertahan lama, karena setelah tanya ke kelas lain yang diajar dosen itu, ternyata penambahan nilai mereka jauh lebih banyak dari kelas kami. bayangkan di kelas kami nilai 60an palin banter cuman bisa jadi 70an, dan dikelas itu nilai 60an bisa jadi 90!!!!(ini beneran terjadi kawan2!!!). Dan setelah kita protes dan tanya ke dosennya, dia jawab kalo cara penambahan nilai tersebut didasar pada perhitungan statistik yang gue g ngerti dan g dapet korelasi antara nilai dan hitungan tersebut. Tapi intinya, di kelas gue emang persaingan antara mahasiswa lebih ketat daripada kelas yang lain, rentang nilai di kelas gue sangat ketat, sedang rentang nilai tertinggi dan kedua di kelas lain itu sangat jauh, jadi menurut dosen itu, orang yang mendapat nilai tertinggi di kelas lain itu pasti memiliki usaha yang lebih keras jadi layak mendapat tambahan nilai yang lebih banyak.......

Nah, adilkah hal ini??.....karena dalam satu angkatan, terbagi beberapa kelas, yang untuk satu mata kuliah pasti dosen yang mengajar akan berbeda, sehingga tentu saja nilai dari tiap kelas tidak akan bisa dibandingkan. Lalu, bagaimana dalam hal evaluasi ipk? tentunya ipk antar mahasiswa juga g bisa dibandingin kan? sebagai informasi, di kampus gue ada evaluasi untuk menentukan beberapa persen mahasiswa terbaik yang selanjutnya berhak untuk mendapatkan sejumlah reward dari kampus.

Untuk sampai saat ini, gue masih sedikit beruntung, karena sejak semester 1 gue jarang dapet dosen2 yang pelit nilai. Kalau pun gue dapet nilai jelek, itu memang karena gue kurang keras dalam belajar sehingga gue masih bisa ikhlas nerima hasil nilai jelek tersebut.
Dan alhamdulillah, nilai UTS yang sebagian udah keluar juga lumayan bisa melegakan hati dan semoga nilai2 yang belum keluar juga bisa ikut turut serta melukis sebuah senyum manis di bibir gue...(huueek!!!)

Jadi begini lah realitanya...hasil nilai atau ipk dari mahasiswa dalam satu universitas aja sebenarnya g bisa dibandingkan, apalagi dengan universitas lain?

Lalu, apa kesimpulan dari tulisan ini?? Gue juga g ngerti....hahahahha.....dasar setres!!